Review Film: Every Wall is A Door

Every Wall Is A Door

Ingatan hidup dalam realitanya sendiri. Every Wall is a Door (2017) mencoba membaca kembali realita tersebut melalui relasi seorang anak dan ibunya. Kaset-kaset VHS peninggalan sang ibu menjadi jembatan dua realita yang terpisahkan waktu tersebut. Kaset-kaset yang lalu disusun menjadi 58 menit berisi potongan program stasiun televisi nasional Bulgaria, ‘Version M’ di mana seorang jurnalis perempuan mengajukan serangkaian pertanyaan filosofis kepada sekelompok individu lintas kelas.

Pertanyaan itu kemudian membawa penonton masuk dalam realita yang berbeda. Akhir perang dingin, runtuhnya Tembok Berlin dan Uni Soviet mendorong munculnya gelombang perubahan sosial politik di negara-negara Eropa Timur, tidak terkecuali Bulgaria. Televisi tidak lagi ihwal mistifikasi elit partai. Ruang publik dari televisi sampai taman kota menjadi arena pertarungan antara nyanyian kaum hippie dan nyinyiran orang-orang yang tidak mengerti arti ruang publik.

Euforia sesaat sebelum demokrasi menjadi sekadar jargon-jargon di televisi. Hingga kemudian barang-barang kebutuhan pokok menghilang dari peredaran. Tapi tidak ada yang peduli selama Paman Sam masih memberi makan berupa ilusi bahwa hari esok akan lebih baik. Peradaban lain adalah inferior dihadapan negara yang memenangkan Perang Dunia Kedua dan Perang Dingin. Maka jawaban dari segala permasalahan negara dunia ketiga adalah pembangunan ala kapitalisme, yang menurut Presiden Reagan berhasil membuat Amerika Serikat menjadi puncak peradaban manusia.

Pembangunan yang setelah lebih dari dua dekade ternyata tidak membawa Bulgaria ke mana-mana selain keberhasilan menjadi anggota NATO pada 2004 dan Uni Eropa pada 2007. Pembangunan yang tidak memberikan ruang untuk membicarakan kelamnya masa lalu. Tentang kamp-kamp konsentrasi yang menjadi rumit ketika demokrasi tereduksi menjadi proses pemindahan kekuasaan dari satu elit ke elit lain, dan hal ini yang terjadi pada Bulgaria pasca 1989. Menjadikan 10 November 1989 bagi masyarakat Bulgaria hanya sekadar angka. Lalu salahkah untuk memiliki harapan?

Upaya mengaburkan dua realita berbeda yang dilakukan Elitza Gueorguieva di film ini tidak lain adalah sebuah langkah bagi seseorang untuk berdamai dengan memorinya. Suatu langkah yang seharusnya ditempuh Bulgaria sebagai nation-state, apabila ingin bergerak ke depan. Lupakan elit dan segala politiknya, karena proses rekonsiliasi selalu dimulai dari ruang-ruang paling privat.

Memori sungguhlah magis, layaknya ingatan seorang anak tentang ibunya. Barangkali karena ia hidup dalam realita yang berbeda, dan tidak akan pernah benar-benar mati. Maka segala upaya untuk menghapus ingatan dalam skala apa pun, adalah sia-sia belaka. Sebuah pelajaran yang tidak pernah benar-benar dimengerti rezim kebenaran manapun. Lalu sampai di sini sepertinya sudah jelas bahwa ini adalah kisah tentang rekonsiliasi dalam bentuk paling personal, dengan diri sendiri, agar tidak terjebak pada narasi romantisme masa lalu atau harapan yang sudah menjadi komoditas pasar bebas.

Recent Posts
4232293fe15e92b545e3ee63b25cb8fa9999999999999999999