SPEKTRUM
Retrospektif Mark Rappaport

Setiap tahunnya, program Spektrum selalu menawarkan hal baru dalam melihat keragaman bentuk dokumenter. Kami mencoba membingkai Spektrum melalui sutradara-sutradara yang menggambarkan dunia lewat perspektif mereka secara personal. Tahun ini kami memilih Mark Rappaport, sutradara film bawah tanah dalam sinema Amerika di tahun 70-an. Rappaport menggunakan footage film populer yang disusun dengan panduan narasi sehingga membentuk kesinambungan gambar dan cerita dengan premis tertentu. Ia menamakan karyanya sebagai video essay (esai video). Esai video muncul sebagai bentuk komentar sang pembuat yang digerakkan oleh tesis tertentu. Sebagai bentuk media yang relatif baru (khususnya di Indonesia), esai video memang tidak memiliki pedoman struktural, meskipun terdapat bentuk supercut dan adegan ekspresi kegemaran fans pada idolanya yang seringkali muncul. Sementara ini, esai video disepakati sebagai potongan rekaman dari satu atau lebih film untuk mengungkapkan wawasan baru tentang film itu.

Esai video yang dibuat oleh Rappaport menggunakan potongan klip film-film yang memperlihatkan kekayaan rujukan film yang dimilikinya. Potongan tersebut diselaraskan dalam struktur naratif lewat kekuatan voice over. Ia seperti ingin meyakinkan penonton untuk menafsirkan potongan gambar tersebut dengan cara tertentu. Esai video menciptakan kerangka analitik pada penonton untuk menafsir ulang rangkaian gambar-gambar asli. Karya Rappaport kami anggap sebagai spektrum yang dapat mengukur sejauh mana pemikiran si pembuat masuk dalam pengerjaan ulang beberapa film. Lewat karya-karyanya, kita seperti sedang melihat artikulasi pemikiran Rappaport dalam medium esai video. Pengerjaan ulang materi editing, suara dan musik, juga merupakan bagian di mana sutradara memiliki peran besar dalam membangun impresi penonton.

Esai video dalam Spektrum ini menunjukkan ketertarikan Mark Rappaport pada budaya sinema, dunia, dan aktornya. Tidak hanya itu, dia juga mengaitkan sinema dengan konteks yang terikat erat dengan persona dirinya, seperti absurditas keterhadiran cermin dan meja dalam elemen film The Vanity Table of Douglas Sirk. Rappaport selalu ingin memberi tahu tentang “what we don’t know on the screen”. Ia memperlihatkan fakta di sekitar bintang film lewat Becoming Anita Ekberg, interpretasi pribadi pembuatnya terhadap tokoh film melalui Sergei/Sir Gay, bahkan elemen artistik yang digunakan dalam film The Circle Closes. Esai video Rappaport lebih mirip sebagai narasi yang dipersonifikasi. Lewat potongan gambar film-film klasik dalam esai videonya, kita dapat melihat bagaimana cerita personal disajikan dengan kekuatan dramatik di mana kebenaran dan rekaan menjadi bias. Seolah mengundang untuk menelaah film dalam interpretasi filmis yang mencerahkan, serta hal-hal yang berada di pusaran film dari narasi esai yang disusunnya.

 

Dikurasi oleh Alia Damaihati & Sazkia Noor Anggraini

  • FFD 2017 | Becoming Anita Ekberg
    Becoming Anita Ekberg
  • FFD 2017 | Sergei | Sir Gay
    Sergei | Sir Gay
  • FFD 2017 | The Circle Closes
    The Circle Closes
  • FFD 2017 | The Vanity Tables of Douglas Kirk
    The Vanity Tables of Douglas Sirk
9716818c85553774455225f70e4d84ea,,,,,,,,,,,