Kompetisi

Selama 14 tahun, Program Kompetisi Festival Film Dokumenter dirancang sebagai media apresiasi dan penghargaan film-film dokumenter tanah air. Tahun ke-15 ini membawa sedikit perbedaan. Dari ketiga kategori yang dihadirkan: Dokumenter Panjang, Dokumenter Pendek, dan Dokumenter Pelajar—peluang dibuka untuk pertama kalinya bagi film-film dokumenter dari luar Indonesia untuk turut berpartisipasi dalam Program Kompetisi, di kategori Dokumenter Panjang. Total film submisi berjumlah 151: 53 film submisi kategori Dokumenter Panjang; 87 film submisi Dokumenter Pendek; dan 11 film submisi Dokumenter Pelajar—Program Kompetisi tahun ini terhitung sebagai tahun dengan jumlah submisi film tertinggi. Film-film pun beragam dan kaya tidak hanya dari segi demografi peserta, melainkan juga konten dan bentuk, mengangkat tema-tema yang sederhana dan dekat dengan keseharian, hingga tema-tema yang mengulik permasalahan-permasalahan aktual, pun permasalahan-permasalahan yang tidak habis diperdebatkan dan lintas zaman seperti gender dan seksualitas. Melalui proses kurasi internal festival, 22 film finalis dipilih dengan rincian 7 film finalis Dokumenter Panjang, 9 film finalis Dokumenter Pendek, dan 6 film finalis Dokumenter Pelajar. Film-film tersebut merupakan film-film yang dianggap berhasil menerjemahkan dengan kritis permasalahan-permasalahan yang diangkat dalam film, ke penonton.

JURI KATEGORI PANJANG
ffd2016-jb

John Badalu
John Badalu adalah salah satu pendiri Q! Film Festival yang berdiri sejak tahun 2002. Dia juga bekerja untuk Berlin Film Festival, Shanghai Film Festival, dan Tallinn Black Nights Film Festival. Sempat menjadi dosen paruh waktu di London School Of Public Relations, John yang mengenyam pendidikan di University of Bologna DAMS ini juga mulai menjajaki pekerjaan sebagai produser and publisis film. Parts of The Heart (Paul Agusta), Vakansi Yang Janggal Dan Penyakit Lainnya (Yosep Anggi Noen), What They Don’t Talk About When They Talk About Love (Mouly Surya) adalah film-film dimana dia terlibat sebagai co-produser.

ffd2016-lr

Lisabona Rahman
Lisabona Rahman menggeluti dunia film lewat tulisan dan keterlibatannya dalam restorasi film. Awal tahun 2000 dia giat sebagai wartawan film dan programmer, menduduki posisi editor di media online filmindonesia.com di tahun 2010, dan manajer program Kineforum Dewan Kesenian Jakarta antara 2006-2011. Lulus dari program preservasi (Preservation and Presentation of the Moving Image Professional MA Programme) di University of Amsterdam pada tahun 2013, Lisa kemudian bergabung dengan L’immagine Ritrovata sebagai operator dalam departemen komparasi & rekonstruksi film (Department of Film Comparison & Reconstruction) di tahun 2014. Lisa turut terlibat dalam proyek restorasi film Tiga Dara (1956).

ffd2016-rp

Ranjan Palit
Ranjan Palit adalah filmmaker dan sinematografer yang telah membuat lebih dari seratus film dokumenter, 20 film fiksi panjang (salah satunya 7 Khoon Maaf, bersama Priyanka Chopra, disutradarai Vishal Bhardwaj, salah satu sutradara terbaik di India), dan sekitar 300 komersial TV. Dia menyutradarai 12 film dokumenter, dan sedang dalam proses menyutradarai film fiksi panjang pertamanya, Orphan. Dia telah memenangkan 4 penghargaan nasional (3 penghargaan dia tolak), dan setidaknya selusin penghargaan internasional. Dia telah menjadi sinematografer independent selama 30 tahun dan menyutradarai film selama 25 tahun terakhir. Dua dari film dokumenternya memenangkan Golden Conch Award di Mumbai Film Festival. Di tahun 1990 dan 1996 dia menjalankan program masterclass di Busan, Helsinki, Pune, Kolkata, Bangalore, Delhi, Austin, and Berkeley. Dia mengadakan workshop di FTII, SRFTII, Whistling Woods International, Srishti Institute of Art, Design and Technology, dsb., selama 20 tahun terakhir.

JURI KATEGORI PENDEK
ffd2016-es

Eric Sasono
Kritikus film, sekretaris Board of Directors InDocs, anggota International Honorary Advisor Asian Film Awards 2009-2013, peraih Piala Citra 2005-2006 untuk kategori kritik film.

ffd2016-fh

FX. Harsono
Adalah  seniman yang kritis terhadap perkembangan politik dan gerakan kebudayaan Indonesia sejak masih mahasiswa. FX. Harsono belajar melukis di STSRI “ASRI” Yogyakarta (1969-1974) dan di Institut Kesenian Jakarta (1987-1991). Sejak 2005 ia menjadi staf pengajar di Fakultas Seni dan Desain di Universistas Pelita Harapan, Tangerang. Beberapa pameran tunggalnya adalah Testimonies (Singapore Art Museum, Singapura, 2010) dan The Erased Time (Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2009). FX. Harsono juga tampil di berbagai acara seni internasional, di antaranya, 4th Moscow Biennale of Contemporary Art, Moskow, Rusia (2011), Edge of Elsewhere di 4A, Sydney, Australia (2011), Recent Art From Indonesia: Contemporary Art-Turn di Museum of Contemporary Art, Shanghai, Cina (2010) dan Beyond the Dutch di Centraal Museum, Utrecht, Belanda (2009). Selain berpameran, FX. Harsono juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai lokakarya serta menulis kritik seni di berbagai media. Ia juga pendiri dan Ketua Pengawas Koalisi Seni Indonesia. Pada 2014, FX Harsono menerima penghargaan Prince Claus Award.

ffd2016-yan

Yosep Anggi Noen
Seorang penulis dan pembuat film, Anggi mengawali karirnya dengan film-film pendek yang ia produksi bersama teman-temannya di bawah studi Komunikasi, Universitas Gajah Mada. Beberapa film pendeknya termasuk Hujan Tak Jadi Datang (2009), yang diputar di International Film Festival Rotterdam. Film panjang pertamanya, Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) dijurikan di sesi kompetisi Locarno Film Festival, juga memperoleh Special Mention Award dari Vancouver International Film Festival 2013. Ia juga memperoleh penghargaan Grand Prix Festival Film Short Shirt & Asia 2014 (SSFF) dan Sonje Award Best Short Film di Busan International Film Festival 2013 lewat filmnya Nona Kedi yang Tak Pernah Melihat Keajaiban (2013).

JURI KATEGORI PELAJAR
ffd2016-sk

St. Kartono
Guru di SMA Kolese De Britto, sejak 1991. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Sanata Dharma dan Pascasarjana Linguistik Terapan, Universitas Negeri Yogyakarta. Telah mengorankan lebih dari 500 artikel di KOMPAS, Harian JOGJA, BERNAS, Kedaulatan Rakyat, Majalah BASIS, Solo Pos, Suara Pembaruan, dan RadarJogja. Empat dari sebelas bukunya: Menulis Bersama Murid (Pintal, 2015); Menjadi Guru Untuk Muridku (Kanisius, 2011, cetak ke-4); Menulis Tanpa Rasa Takut (Impulse-Kanisius, 2009); dan Sekolah Bukanlah Pasar (Buku KOMPAS, 2009).

ffd2016-bwp

B.W. Purba Negara
B.W. Purba Negara adalah pembuat film asal Yogyakarta yang telah banyak membuat film-film fiksi dan juga dokumenter. Sebelumnya hanya membuat film-film berdurasi pendek, tetapi saat ini film panjang pertamanya yang berjudul Ziarah baru saja selesai dan akan segera didistribusikan. Selain aktif membuat film, B.W. Purba Negara juga terlibat sebagai mentor pada program Eagle Awards Metro TV, menjadi pengajar di Jogja Film Academy, dan sebelumnya sempat juga mengajar di Universitas Multimedia Nusantara. Karya-karya dokumenternya diantaranya berjudul Rantemas (2006), Panggung Kasetyan Balekambang (2005), Musafir (2008), dan Digdaya Ing Bebaya (2014).

ffd2016-tkw

Thong Kay-Wee

Publisis sekaligus kurator. Saat ini bertanggung jawab menangani koleksi arsip dan pemograman di Asian Film Archive (AFA) sejak 2014. Mengenyam pendidikan di broadcasting dan studi sinema (Broadcast and Cinema Studies) di Nanyang Technological University, Kay-Wee melihat dirinya sebagai badan kreatif independen yang percaya pada kekuatan evokatif dari sinema.

FILM FINALIS

All Category
Dokumenter Panjang
Dokumenter Pendek
Dokumenter Pelajar
  • I Want to Be a King
  • Red Clothes
  • Bulu Mata
  • Roshmia
  • Nokas
  • Shadow Girl
  • Potongan
  • Galian C
  • Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!
  • Setitik Asa dari Kita
  • 1880 MDPL
  • Arang Bathok
  • Waktu Makan
  • Mata Elang
  • Anak Koin
  • Senandung Sunyi Samudera
  • Miang Meng Jakarta
  • Generasi Sekian
  • Sepanjang Jalan Satu Arah
  • Jembatan Sibuk
  • Petani Terakhir
  • Kerabat
75cd00a6f337ca9612095e53b4436ebbBBBBBBBBBB