Diskusi

Merasakan Film Etnografi Indrawi

2016-displacement-diskusi

Etnografi dikenal sebagai masterpiece dari para antropolog. Sebagai sebuah pelukisan suatu komunitas, etnografi mensyaratkan teori, metode, dan etika yang baku serta prosedural. Pada perkembangannya, baru-baru ini beberapa pembuat film mencoba kemungkinan baru dalam mengeksplorasi etnografi sebagai media multidisiplin untuk mempresentasikan pengalaman observasi bersama subjek dalam film.

Tahun ini, Festival Film Dokumenter menghadirkan diskusi “Merasakan Film Etnografi Indrawi” sebagai apresiasi sekaligus pengayaan wacana atas bentuk film etnografi indrawi. Diskusi ini juga akan menjadi ruang tukar pengalaman antara sensitivitas pembuat film dalam mendokumentasikan peristiwa dengan sensasi yang didapatkan oleh penonton.  

Film-film yang menjadi acuan dalam diskusi ini adalah Demolition, How to Rust, On Broadway #5, Foreign Parts, dan Into the Hinterlands.

Pembicara
Aryo Danusiri (Sensory Ethnografi Lab)
Eric Sasono (Kritikus Film)

Moderator
Franciscus Apriwan

Jadwal
8 Desember 2016 | Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | 16.30 WIB

Yang Tidak Dibicarakan Saat Bicara Tentang Remaja Perempuan

Presentasi Kembang 6 Rupa

Kembang 6 Rupa adalah seri dokumenter pendek tentang 6 remaja perempuan yang tengah menghadapi masa depan di kampung halamannya. Kembang 6 Rupa diproduksi oleh Yayasan Kampung Halaman, berkolaborasi dengan 6 sutradara dan 6 remaja perempuan di Indramayu, Sumedang, Kuningan, Sleman, Sumbawa dan Wamena. Enam remaja perempuan tersebut menceritakan persoalannya tentang pendidikan, keluarga, mobilitas, kebebasan berkeyakinan, ketenagakerjaan, kebebasan berpendapat dan keadilan gender.

Dalam pemutaran dan diskusi, Kampung Halaman ingin mencari tahu tentang hal-hal yang selama ini belum tepat ketika melihat remaja perempuan, hal yang tidak terungkap karena tidak disadari atau sengaja didiamkan.

Penanggap
Sri Wahyaningsih
Ismi Rinjani

Moderator
Sani Widowati

Jadwal
9 Desember 2016 | Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | 14.30 WIB

Karatagan Ciremai | Ady Mulyana | 17 min. | Kuningan
Cerita Anih (15) yang menganut Sunda Wiwitan dan kesulitan mendapatkan akte kelahiran serta surat administrasi kependudukan lainnya.

Haruskah Ke Negeri Lain? | Anton Susilo  | 16 min. | Sumbawa 
Ketika Maesarah (17) ingin memperbaiki kehidupan keluarganya dengan bekerja di Malaysia, ia justru menemukan indikasi adanya jaring laba-laba seputar biaya keberangkatan yang melibatkan sekolahnya.

Bangun Pemuda! Pemudi Sudah | Michael A.C. | 9 min. | Sleman
Aktivitas Lala (17) dan anggota perempuan lainnya di organisasi karang taruna yang memiliki stigma terhadap perempuan.

Agnes, Pewaris Budaya Dunia? | Arief Hartawan | 7 min. | Wamena
Gejolak hidup Agnes (17) sebagai orang tua tunggal dan impiannya untuk melanjutkan sekolah.

Miang Meng Jakarta | Opan Rinaldi  | 14 min. | Indramayu
Rasa frustasi yang dihadapi Ika (16) manakala tinggal di kampungnya di Amis, Indramayu.

Bintang di Pelupuk Mata (Tak Tampak) | Dwi Sujanti Nugraheni | 16 min. | Sumedang
Keseharian Pipit (16) menimba prestasi di sekolah yang justru enggan mendukung cita-citanya.

Displacement dan Siasat

ffd2016-displacement

Seberdaulat apa kita akan ruang hidup kita sehari-hari? Rezim mungkin berganti, tapi ketidakadilan ruang terus dilanggengkan, seringkali melalui penindasan dan penggusuran. Korbannya: mereka yang tak berdaya secara politik maupun ekonomi.

Kita tak perlu jauh-jauh melihat kabar pengungsian di negeri sana. Di sekitar kita, tercabutnya berbagai komunitas dari ruang-ruang sosial menjadi persoalan yang tak kunjung tuntas sampai saat ini. Jakarta, pada tahun ini saja, menjadi saksi mata bagi tiga puluh lebih kasus penggusuran.  Lebih dekat lagi, penggusuran atas nama penataan kota turut terjadi di Yogyakarta. Satu kasus yang masih hangat: ancaman penggusuran di wilayah pantai Parangkusumo, demi proyek pembangunan untuk kepentingan pariwisata. Kasus lain yang juga masih hangat: proses penggusuran di Kulonprogo untuk pembangunan bandara.

Pematokan wilayah bermakna hierarkis. Pemindahan warga secara paksa belakangan ini merupakan bagian dari politik pembangunan, yang menyeleksi siapa yang berhak dan siapa yang tidak. Tahun ini FFD menawarkan sebuah program diskusi Displacement dan Siasat untuk mempertajam perspektif kita mengenai persoalan-persoalan perebutan kawasan di sekitar dan menelaah siasat pendokumentasian atas gejolak sosial ini.

Pembicara
Kus Sri Antoro
Sindy Febriyani (WatchDoc)

Moderator
Adrian Jonathan Pasaribu

Jadwal
10 Desember 2016 | Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta | 14.30 WIB

a3a01adc60464e271b3ea03629f4a35bttttttttt