Perspektif

“Post-truth”

Tahun ini, Festival Film Dokumenter memilih tema post-truth sebagai perspektifnya. Post–truth adalah kata sifat yang dalam Kamus Oxford merujuk pada suatu keadaan di mana fakta objektif kurang dapat berpengaruh pada pembentukan opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Post-truth memiliki relasi yang mesra dengan rezim yang punya kekuasaan akan klaim kebenaran.

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika memberi bukti bahwa ujaran kontroversial dan klaim-klaim yang didasarkan pada sentimen rasial atau agama mampu membentuk opini publik, meskipun tanpa didukung bukti-bukti yang kuat. Di Indonesia, gambaran paling tepat mungkin bisa dilihat dari polarisasi politik pada masa kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta yang masih segar dalam ingatan. Berita-berita yang belum terverifikasi kebenarannya telah terlanjur tersebar dan diyakini sebagai suatu kebenaran. Emosi dan sentimen agama dimainkan dalam wilayah keyakinan personal dan dengan itu pula fakta objektif diabaikan.

Fenomena post-truth kini semakin dekat dengan keseharian. Media sosial turut berperan meningkatkan peluang berita yang belum tentu kebenarannya tersebar meluas. Adanya sistem algoritma memungkinkan berita yang paling banyak disukai dan dibagikan dalam lingkaran jaringan sosial virtual seseoranglah yang memenuhi laman sosial medianya. Di saat bersamaan, ia menjauhkan seseorang dari berita-berita yang tidak mempunyai kesamaan dalam algoritma. Penggunaan sistem tanda tagar membuat persebaran berita semakin cepat dan tak terkendali. Hal tersebut menyebabkan arus informasi yang belum terverifikasi memenuhi kepala seseorang tanpa ia mampu berpikir jernih. Kebenaran ini tidak hanya diyakini, tapi mampu membentuk polarisasi pandangan, sikap, bahkan pergerakan.

Lantas, jika post-truth sudah kian menggejala di kehidupan kita, bagaimana dengan medium film dokumenter? Bukankah sejak awal film dokumenter dibuat dengan keyakinan personal yang tujuannya membangun opini publik? Buktinya, film dokumenter telah lama digunakan sebagai media propaganda rezim tertentu, meski bukan satu-satunya. Di sisi lain, film dokumenter juga banyak menampilkan realita yang dianggap alternatif dari kebenaran yang sebelumnya diyakini oleh pandangan umum. Pembuat film dokumenter dapat menentukan siapa yang ia wakili. Sejauh ini, film-film dokumenter memiliki tendensi untuk menampilkan realitas yang berpihak pada kaum tertentu, dari korban pelanggaran HAM hingga sejarah yang ditutupi. Artinya, film dokumenter muncul sebagai medan pertarungan, di mana ia dapat berperan sebagai alat propaganda di satu sisi dan sebagai media alternatif di sisi lain.

Pembicaraan produksi film dokumenter tidak mungkin terlepas dari posisi pembuat film dengan subjeknya. Ada relasi kuasa yang terjadi di antara mereka. Pembuat film memiliki kekuasaan dalam melegitimasi realitas, meski tidak ada kehendak untuk mencapai kebenaran tertentu. Dalam era post-truth, film dokumenter kami anggap mampu memberi alternatif, meruntuhkan pandangan yang selama ini dianggap objektif dan benar menurut rezim kebenaran tertentu. Tidak semata-mata memberikan tandingan, film dokumenter sejak awal juga berpotensi sebagai propaganda rezim. Untuk itulah, keberpihakan pembuat film penting dalam dokumenter. Di mana dia berdiri? Siapa yang ingin ia bela? Siapa yang dilibatkannya? Apa agenda setting yang ingin disampaikannya?

Film dokumenter di era post-truth merupakan medium pertarungan kebenaran. Realita yang ditampilkan lewat dokumenter merupakan kebenaran yang dibangun oleh pembuatnya. Hal ini dapat jelas tertangkap lewat dokumenter yang merekam percakapan di situs reddit terkait manipulasi pelaku bom Boston dalam Watching the Detectives, atau kepercayaan masyarakat Suzu akan datangnya UFO ke desa mereka dalam The Village’s Bid for UFO. Campur tangan teknologi juga berpengaruh terhadap polarisasi kebenaran tersebut, seperti halnya film yang dibangun lewat footage situs youtube dalam Tell the Prime Minister atau bagaimana jaringan daring dapat membangun perang virtual dalam Netwars.

 

Dikurasi oleh Sazkia Noor Anggraini, diedit oleh Irfan Rizky Darajat

  • FFD 2017 | Une jeunesse allemande | A German Youth
    A German Youth
  • FFD 2017 | AWAL: Nasib Manusia | AWAL: Fate of Human
    AWAL: Nasib Manusia
  • FFD 2017 | Paisaje Para una Persona | Landscape for a Person
    Landscape for a Person
  • FFD 2017 | Netwars
    Netwars
  • FFD 2017 | Pantja Sila: Cita-cita dan Realita | Pantja Sila: Dream and Reality
    Pantja Sila: Cita-cita dan Realita
  • FFD 2017 | 首相官邸の前で | Tell the Prime Minister
    Tell The Prime Minister
  • FFD 2017 | The Red Barred
    The Red Barred
  • FFD 2017 | La Sociologue et l'ourson | The Sociologist and the Bear Cub
    The Sociologist and the Bear Cub
  • FFD 2017 | 村に UFO を誘致する | The Village's Bid for UFO
    The Village's Bid for UFO
  • FFD 2017 | Watching the Detectives
    Watching the Detectives
ae831c25764efe877bb3e792066b07f4[[[[[[[[[[[[[[[[