Wawancara dengan John Badalu, Lisabona Rahman, dan Ranjan Palit

Ranjan Palit, Lisabona Rahman, dan John Badalu (dari kiri ke kanan)

Tim Publisis Festival Film Dokumenter (FFD) 15 berkesempatan untuk mewawancarai ketiga juri kompetisi dokumenter panjang; Ranjan Palit (R), John Badalu (J), dan Lisabona Rahman (L). Wawancara berkelindan perihal film-film dokumenter dan pendapat mereka mengenai perkembangan film dokumenter itu sendiri. Berbagai macam pandangan dan sudut yang mereka ambil ketika melihat dan mengalami dokumenter terekam dalam catat pena kami. Wacana sosial yang diangkat sebagai materi dalam film-film dokumenter panjang yang dikompetisikan, seperti: marginalitas, LGBT, rezim represif pemerintah yang berkuasa, dsb menjadi awal dari obrolan kami. Mari simak.

Pertama-tama, kami ingin mengetahui pendapat Anda tentang penjurian kompetisi dokumenter panjang Rabu lalu. Untuk pertama kalinya, FFD membuka kesempatan bagi film-film lintas negara untuk ikut kompetisi film dokumenter panjang. Apa yang Anda lihat ketika film-film Indonesia disandingkan dengan film-film internasional?

J: untuk sebuah kompetisi internasional, kompetisi ini masih kurang memiliki keberagaman konten film karena masih berpusat pada Asia, bahkan Indonesia. Untuk tingkatan internasional, keberagaman peserta FFD masih harus ditingkatkan.

R: sebagai penyelenggara festival film dokumenter tertua di Asia Tenggara, program ini tergolong menarik.

Apa yang menjadi ciri khas dokumenter Indonesia dibanding negara-negara lainnya sejauh yang kalian sadari?

L: Sejujurnya, saya nggak mau menggolongkan film model film Indonesia dan film Internasional. Dan, bahkan saya menolaknya kalaupun ada. Film tetaplah film, karya yang tidak terbatas ruang dan waktu.

Untuk Ranjan Palit, di Indonesia, isu yang sedang memanas adalah perihal perselisihan antar identitas, baik berupa agama, etnis, dsb. Pun begitu dengan banyaknya acara screening film yang kerap dibubarkan oleh banyak ormas yang mengatasnamakan ideologi tertentu dengan ketakutan mereka yang saya rasa hanya perihal ego dan latar belakang ahistoris semata, apakah ini pernah terjadi juga di India?

R: Tentu saja. Itu terjadi di mana-mana. Termasuk di India. Saya rasa persoalan seperti itu memang bukan hal yang baru lagi.

Salah satu finalis tahun ini mengangkat sensor sebagai bahasan utama (Potongan, Chairun Nissa, 2016). Sebagai orang-orang yang berkarya di bidang audiovisual, bagaimana kalian menyikapi sensor?

R: Saya sangat anti dan tidak peduli dengan sensor. Lagipula, apa tujuan dari sensor itu sendiri?

Untuk John Badalu, sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpung di pergerakan isu marginalitas, menurut Anda, apa arti dari marginalitas itu sendiri?

J: Marginalitas muncul di pemahaman seseorang. Jika orang itu merasa kalau dirinya termarginalkan, maka istilah marginal pantas disAndang olehnya. Sebaliknya, jika di keadaan sebenarnya seseorang termarginalkan tetapi orang tersebut tidak merasa demikian, maka dia bukan salah satu yang marginal. Istilah dominasi dan marginal itu timbul dari perspektif masing-masing yang ada di pikiran mereka.

Untuk Mbak Lisa, bagaimana pendapat Anda mengenai penggambaran perempuan dalam film-film finalis?

L: Penggambaran perempuan di film-film ini sangat beragam. Kita bisa lihat perempuan yang mempertanyakan relasi, atau definisi perempuan yang kuat seperti di Roshmia (Salim Abu Jabal, 2015). Aku nggak bisa bilang kalau keseluruhan film ini menumbuhkan tren bahwa dalam hubungan sosial perempuan ini tidak dilibatkan. Kita tahu kalau lihat realita, pasti itu tidak benar. Ada kesempatan-kesempatan di mana perempuan lebih dilibatkan dalam decision making. Tapi, di keseluruhan film, memang ada penggambaran kalau perempuan memang belum atau nggak selalu dikasih kesempatan dan mendapat kesempatan untuk bersuara.

Kembali ke John Badalu, Bulu Mata dibuat oleh Toni Trimarsanto yang membuat Renita, Renita dan Mangga Golek Matang di Pohon. Bagaimana kaum-kaum yang dianggap liyan diangkat oleh film-film ini, terutama dari Bulu Mata itu sendiri.

J: Agak kompleks sebenarnya. Bulu Mata (Tonny Trimarsanto, 2015) merupakan film yang terbatas, mungkin karena keterbatasan waktu untuk membuatnya juga. Ia tidak bisa mengangkat konteks jauh lebih dalam tetapi malah menampilkan masyarakat yang sangat Islami di Aceh. Menariknya, di sini ditampilkan bahwa kaum transgender dalam lingkungan yang sangat represif, mereka bisa bertumbuh dan punya suara, dan punya rencana mau ngapain, jadi tidak sepenuhnya tertekan. Film ini menunjukkan bahwa hidup itu punya pilihan: mau ditekan terus, atau memilih memberontak. Hal itu juga ada di Renita, Renita. Dari dia seorang lelaki yang pindah pake baju perempuan trus akhirnya merasa nyaman dan memutuskan untuk sepenuhnya menjadi perempuan. Ini juga pilihan. Ia memilih untuk menjadi perempuan. Walaupun di versi panjangnya, Mangga Golek Matang di Pohon, dia kan balik ke kampungnya sebagai perempuan. Ia mencoba mempenetrasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Dia mencoba menyatakan kalau ini adalah identitas baru yang harus diterima oleh masyarakat.

Karena aku belum nonton Mangga Golek Matang di Pohon. Apa sih kekuatan Bulu Mata dibanding Renita, Renita?

J: Renita, Renita kan satu karakter dan kita terpaku sama karakter itu aja. Dan itu satu momen kehidupan di sebuah tokoh. Dibanding Bulu Mata yang punya representasi-representasi dari waria berbeda. Ada yang udah berdamai dengan orangtuanya. Ada juga yang masih tertutup. Tetapi mereka semua jadi satu komunitas dan bersama-sama menjadi kuat. Jadi, isu yang dibahas jauh lebih besar.

L: Dan sebenarnya yang paling menarik di bulu mata waktu dia ngurus KTP itu loh. Kalau di Renita, Renita persoalannya lebih personal, keluarga. Bulu Mata lebih kompleks, ada persoalan dia sama negara juga.

Untuk Ranjan Palit, sejauh yang kami ketahui, Anda pernah mengembalikan 3 penghargaan nasional yang pernah Anda dapatkan, apa yang melatarbelakangi tindakan itu?

R: Hal tersebut saya lakukan sebagai keikutsertaan saya sebagai lulusan FTII dalam perlawanan terhadap pemerintah akan masalah intoleransi yang semakin marak di India. Sebenarnya, ada 4 penghargaan yang hendak saya kembalikan, namun saya menghargai pendapat istri saya untuk menyimpan satu penghargaan sebagai bukti kerja kreatif saya. Saya pikir, sikap yang saya ambil adalah sikap yang paling wajar sebagai pekerja kreatif, terlebih dokumenter, untuk melawan sikap pemerintah yang tidak menindaklanjuti isu intoleransi yang semakin marak di India.

Kembali ke penjurian. Bagi ketiga juri, adakah film finalis yang memiliki kedekatan secara personal dengan kalian?

R: Untuk film finalis, saya tidak merasakannya. Namun, saya merasa dekat dengan Notes On Blindness (salah satu film di program pemutaran perspektif) karena saya juga memiliki gangguan penglihatan di bagian mata kanan. Saya terlalu banyak menggunakan mata kanan saya untuk melihat melalui kamera.

L: Sulit untuk memutuskan karena sebenarnya tidak ada yang saya alami secara personal. Tetapi, ya saya punya kedekatan ketika saya membayangkan seperti apa jadinya jika saya berada di dalam situasi itu. Ini seperti bagaimana jika harus bergelut dengan tradisi di Nokas, tentang rumah di Roshmia, dan bagaimana jika kamu tidak bisa bekerja seperti sebelumnya di Shadow Girl.

J: Tidak ada. Karena masalah yang diangkat belum pernah saya alami secara langsung.

[Anas AH / Ellyta Rahmayandi]
Recent Posts
d1a731982671c731c825bdf25dc97dba=====