Wawancara dengan Thomas Barker, Pengamat dan Peneliti Film

Thomas Barker

Tahun ini Festival Film Dokumenter mengajak Thomas Barker sebagai fasilitator Lokakarya dan Juri Kompetisi Dokumenter Pendek. Menurutnya perubahan politik di Indonesia yang mempengaruhi ragam film baik dokumenter maupun fiksi di Indonesia, menjadi pemicu kemunculan ruang-ruang diskusi baru. Hal ini, berdampak pula pada kritik film Indonesia yang cenderung bermasalah.

Tim Newsletter berkesempatan untuk mewawancarai salah satu pengamat perkembangan film pasca-reformasi ini. Simak wawancara kami.

Bisa diceritakan bagaimana awal mula Anda menyukai film hingga keterlibatan Anda dalam beberapa festival  film sebagai juri, pengamat film, atau lainnya?

T: Kalau tahun ini saya diajak oleh FFD menjadi Juri. Ini pertama kali saya menjadi juri festival film. Sampai saat ini saya membantu beberapa festival dan grup cinema di Malaysia, salah satunya Freedom Film Festival,  dan sebuah perusahaan New Wave di Malaysia.  Perusahaan ini sering mengadakan workshop, screening, dan lain-lain. Saya juga dosen Film dan Televisi, Culture Studies dan juga Dokumenter di Universitas Nottingham di Malaysia. Itu Latar belakang singkat saya.

Tapi kalau minat pada film muncul dari kecil ya, bapak saya peminat film lama dan klasik. Dan waktu saya masih kecil itu, saya sering diajak bapak ke bioskop nonton film klasik seperti Charlie Chaplin, Benheur, dan lain lain. Jadi dari kecil saya mulai paham film, dan  sejarah film dan lain sebagainya.  Jadi waktu saya kuliah S3, saya pilih meneliti film Indonesia, khususnya perkembangan industri film indonesia setelah 98. Jadi melihat industri komersial  [mainstream] tumbuh lagi.

Bagaimana pengamatan Anda soal perkembangan film di Indonesia sekitar 10 tahun terakhir?

T: Saya mungkin lebih tahu perkembangan film fiksi. May be the simple answer are, sebenarnya setelah Soeharto turun, ada space. Penguasa atau pemerintah orde baru yang sangat mengontrol dunia perfilman awalnya. Nah, setelah 98, pemerintah sedikit menarik diri untuk mengurusi hal itu. Jadi di ruang tersebut, pembuat film muda, baru bisa masuk dan membuat film. Bisa dilihat di film Kuldesak yang keluar di tahun 1998, dan beberapa judul lain. Dan waktu itu ada gerakan Indie kan, seperti Hari Dagoe, Monti Tiwa, Rudi Sudjarwo dan beberapa orang lainnya. Sekitar tahun 1998 sampai 2003 atau 4 an, yang paling banyak film Indie.

Tapi masalahnya dulu adalah, film indie agak susah untuk melanjutkan produksi kan. Karena film indie biasanya marketingnya sedikit, tidak banyak uang, susah cari modal. Jadi masalahnya  ada di soal meneruskan produksinya. ‘Bagaimana bisa bergerak dari pembuat film indie menjadi pembuat film arus utama’.

Namun, yang terjadi pada saat itu, perusahaan besar seperti Indika, Multivision, Starvision, Cinemart, MD, dan seluruh perusahaan besar lain, mulai berpindah kembali ke dunia bioskop. Sebelumnya, mereka berada di dunia pertelevisian di tahun 1990 untuk membuat sinetron, mereka menjadi sangat kaya dan kemudian kembali lagi ke dunia film.

Kemudian, peristiwa ini diakhiri dengan kolaborasi antara pembuat film muda dengan produser tua. Dan ini yang sebenarnya membuat industri film di Indonesia lahir kembali.

Lalu bagaimana untuk dokumenter sendiri?

T: Saya tidak tahu banyak soal dokumenter.  Tapi aku pikir, dokumenter cukup menarik ya, dokumenter di  zaman Orba selalu di produksi oleh BFN untuk propaganda atau pembangunan. Dan juga gaya dokumenter selalu ditemui seputar edukatif informatif, informatif edukatif atau apalah itu. Tapi, tentunya ada pembuat film yang menarik di zaman tersebut, seperti Garin Nugroho, dia dulu pembuat film dokumenter kan. Dan dia bikin film dokumenter yang menarik di tahun 1989 atau sekitarnya. Dan kamu bisa melihat ragam gaya baru di 1990, seperti yang dibuat oleh Nan Achnas dan beberapa pembuat film sepertinya. Dan kemudian , sebelum Kuldesak, ada Anak Seribu Pulau, sebuah program televisi dokumenter yang digerakkan Mira Lesmana, Riri Riza, dan Garin Nugroho. Mereka mencoba untuk memperlihatkan forma atau bentuk berbeda dari dokumenter. Dan setelah 1998, di ‘ruang’ yang telah terbentuk tadi, ditemukan banyak pembuat film yang tidak selalu dari sentral [Jakarta, atau Jawa], kebaharuan isu, topik yang tidak selalu membahas kenegaraan, menggunakan sudut pandang bawah ‘wong cilik’.

Menurut Anda, bagaimana hubungan saling mempengaruhi antara situasi sosial dengan film, dan film dengan situasi sosial? 

T: Saya pikir jelas bahwa tentunya dengan reformasi dan demokratisasi, telah memberi dukungan pada suara baru. Dapat membuat film eksperimen yang lepas dari ketergantungan pada isu propaganda dan negara. Dan tentunya hal tersebut menjadi bentuk refleksi setelah 98.

Saya pikir yang cukup menarik dan penting di dokumenter adalah bukan hanya kemunculan filmnya sendiri, bukan produknya saja, namun juga proses membuat film dokumenter. Bagaimana melibatkan orang lain ke dalam film, apa relasi yang dibangun pembuat film dengan subjek, apakah film dokumenter yang dibuat proyek untuk komunitas atau lainnya.

Seperti misal film dari Gerakan Buruh Wanita di Jakarta. Dan pada film ini, kita bisa lihat platform dan juga bagian organisasi tersebut. Saya kira ini bagian dari cara mengorganisir kan, mendukung bagaimana politik gender. Film ini menjadi dokumen sosial, film ini mampu menangkap peristiwa pada waktunya.

Bagaimana menurut Anda fenomena kritik film saat ini yang cenderung digunakan sebagai ajang promosi saja?

T: Saya pikir, kritik film adalah satu bagian yang bisa memiliki kekurangan pada bagian tertentu, dan semua orang mengetahuinya. Saya tidak melihat sesuatu itu kontroversial. Saya pikir, kita telah melihat baru-baru ini kemunculan ruang baru, seperti Rumah Film, sekarang Cinema Poetica, saya sangat salut kepada mereka. Mereka mengerjakan kegiatan yang menarik dan mereka mencoba untuk mendorong diskusi lebih jauh.

Aku pikir masalahnya ada di media arus utama seperti koran, karena kritik tidak serius seperti bagian dari praktik jurnalistik.

Saya biasa datang ke press screening film di Jakarta. Yang menarik adalah, ketika melakukan pencarian film, seperti kritikus, pada dasarnya menjadi hal baru sekali, biasanya yang mengerjakan ini jurnalis, karena mudah dan tidak ada yang memperdulikannya.

Masalahnya adalah, ketika Anda mendapatkan artikel soal kritik film di Kompas, KR, Jawa Pos, dan lain sebagainya, kemudian mereka akan memuat soal plot film atau soal gosip, dan tidak ada bahasan soal produksi filmnya, kontroversinya atau perkembangannya. Menurutku ini menjadi lahan bagi kritik seni yang muncul secara serius.

Bagaimana pendapat Anda tentang kelas kritik yang diselenggarakan FFD?

T: Aku pikir, Adrian Pasaribu sebagai salah satu penggerak Cinema Poetica memiliki kepekaan banyak soal sinema, sejarahnya, absurditasnya. Dia dapat melihat bagaimana film menjadi hal serius dan konyol di sisi yang lain. Dan aku pikir Cinema Poetica menjadi ruang diskusi serius dan asik soal film. dan saya berharap semua orang membacanya.

Adakah testimoni untuk FFD?

T: FFD melakukan pekerjaan luar biasa, dalam mengumpulkan komunitas, pembuat film, dan lain sebagainya dalam obrolan soal dokumenter. Dokumenter menurut saya sangat menarik karena film ini mempersoalkan seseorang dan kehidupannya secara nyata. Dan saya pikir, di dalamnya terdapat banyak perbincangan yang menarik, seputar negara yang kemungkinan tidak dapat dilakukan oleh film feature dan fiksi. Dan saya pikir, FFD menjadi ruang penting untuk diskusi tersebut.

Recent Posts
e22e31b89cd73eb799594b85611ff62d33333333333333333333