Wawancara bersama Takuro Kotaka, Sutradara The Village’s Bid for UFO

Takuro Kotaka

Takuro Kotaka, seorang pembuat film dokumenter asal Tokyo, Jepang memiliki cara unik untuk mendokumentasikan sebuah isu sosial. Melalui The Village’s Bid for UFO, ia menangkap tanggapan masyarakat setempat akan pembangunan pembangkit energi nuklir di Suzu, Prefektur Ishikawa, sebuah kota kecil nan asri yang kaya akan hasil tani. Menggunakan ad-libs untuk membangun unsur komedik dalam filmnya, Kotaka mengatakan kalau filmnya terkesan seperti fiction documentary, padahal tidak.

My film is actually VERY documentary!” dirinya mengklaim dengan tegas saat Tim Publisis Festival Film Dokumenter mewawancarainya. Berikut adalah hasil wawancara kami dengan Takuro Kotaka-san. Mari simak!

Apa opini Anda mengenai Post-Truth secara umum?

T: Saya tidak pernah memikirkan membuat film bertopik post-truth, jadi saya tidak begitu paham mengenai post-truth itu sendiri. Ini masih tergolong baru untuk saya. Tapi menurut saya, istilah post-truth baru menjadi sangat terkenal sejak sekitar dua atau tiga tahun ke belakang.

Yang saya tahu, post-truth merupakan sebuah fenomena politik di media, ramai di Eropa dan Amerika saat kampanye Trump. Namun saya masih asing dengan Post-Truth itu sendiri, terlebih saya dari Jepang yang masih tertutup dengan isu-isu Internasional.

Bisakah Anda menjelaskan kembali isi dari film The Village’s Bid of UFO?

T: Sekitar setahun atau dua tahun lalu kami, filmmaker Jepang tidak bisa dengan bebas membuat film dengan topik yang mengangkat isu-isu politik atau mengenai pembangkit energi nuklir yang sedang dijalankan pemerintah Jepang. Namun, sebagai pembuat film, terlebih dokumenter kami sangat peduli dengan isu-isu yang demikian, terlebih tujuan kami tidak hanya untuk mengkritik, tapi juga menyadarkan masyarakat tentang apa yang terjadi di sekitar mereka. Jadi, kami mencari cara untuk bagaimana sebuah isu bisa diangkat melalui medium film dokumenter, namun dengan ad-libs yang sama sekali berbeda. UFO adalah salah satunya.

The Village’s Bid for UFO menceritakan Suzu dan bagaimana sebuah desa yang asri dengan hasil tani yang melimpah menjadi sasaran pemerintah Jepang untuk dijadikan sebagai lokasi pengembangan energi nuklir. Dari berbagai perspektif, nuklir bisa membantu warga sekitar untuk tetap hidup, pemerintah menjamin itu. Namun, tentu ada juga pihak yang menolak karena mereka cukup bersyukur dengan hasil tani yang baik, makanan yang cukup, dan alam yang asri. Film ini kemudian menceritakan bagaimana nuklir yang diistilahkan menggunakan objek UFO diharapkan kehadirannya oleh orang-orang, namun juga ditolak keras oleh mereka yang tidak ingin kehidupannya dirusak, dengan menggunakan cara yang lebih komedik dan menyenangkan.

Dalam sudut pandang perspektif, seberapa Post-Truth film Anda?

T: Saya tidak pernah berpikir kalau sebuah film dibuat berdasarkan sebuah isu mengenai kebenaran. The Village’s Bid for UFO merupakan fiction documentary. Sengaja membuatnya seperti itu karena film harus bisa membuat penontonnya nyaman dan menikmati cerita yang ada tanpa harus dibebani dengan fakta di baliknya supaya pesan yang penuh fakta itu bisa tersampaikan. Oleh sebab itu, film ini dibuat dengan cara mendiskusikan ad-libs dengan warga sekitar sebagai aktor dan narasumber untuk menggambarkan UFO seperti apa yang akan dimunculkan. Menurut saya, UFO tersebut yang mungkin bisa disebut sebagai objek post-truth karena memunculkan pertanyaan UFO seperti apa yang audiens tangkap dari film ini dan baik-buruknya UFO juga tergantung dari bagaimana audiens melihat film ini.

Kami mendapatkan banyak pertanyaan mengenai tarian yang dimunculkan dalam film. Sebenarnya, tarian jenis apakah itu?

T: Tarian itu sebenarnya gabungan antara tarian tradisional Jepang dan tarian ritual pemanggilan UFO yang ada di Amerika. Suatu waktu saya membaca buku tentang UFO dan mendapatkan informasi mengenai tarian tersebut. Tepatnya di bagian yang membentuk lingkaran dan saling menggenggam tangan. Di Jepang sendiri, kami memiliki tradisi Bon-Odori (sejenis flash mob dengan musik dan instrumen tradisional dan memiliki nyanyian seperti mantra yang penuh semangat). Di Jepang, kami banyak melakukan Bon-Odori di berbagai acara ritual atau perayaan. Jadi, tarian dalam film ini semacam sebuah gabungan Bon-Odori­ yang diselipkan dengan gerakan ritual pemanggilan UFO untuk menggambarkan The Village’s Bid for UFO itu sendiri.

Sebagian besar dari film Anda merupakan rekaman mengenai tempat-tempat yang Anda kunjungi. Bisakah Anda menjelaskan proses pembuatan film-film Anda?

T: Saya suka jalan-jalan; Amerika, Afrika, sebagian besar Eropa, dan sekarang saya tinggal di Chiang-Mai, Thailand. Saya suka sekali berkeliling melihat sekitar. Untuk proses pembuatan film sendiri karena ini merupakan film dokumenter, jadi hanya memerlukan kamera DSLR dan yah, bagaimana kita sebagai filmmaker menyikapi isu yang diangkat.

Sebagai pembuat film yang berfokus pada fenomena sosial, bagaimana Anda melihat fenomena tersebut dan menuangkannya dalam karya film?

T: Di sini saya menegaskan bahwa setiap pembuat film memiliki gayanya sendiri dalam membuat film. Seperti saya yang sebenarnya memiliki latar belakang Seni Kontemporer. Terlihat dari film saya, saya membuat film dokumenter dengan ad-libs dan terkesan seperti dokumenter fiksi (fiction documentary), padahal latar belakang cerita yang diangkat memiliki nilai yang sangat berat dan bisa mempengaruhi penontonnya. Hal-hal seperti itu yang kemudian membentuk cara penglihatan yang khas dari sebuah seniman.

Apa rencana ke depan untuk karya-karya dokumenter lainnya?

T: Di Jogja? Saya sudah berencana untuk tinggal di sini selama dua minggu setelah Festival selesai, dan saya akan bertemu dengan teman-teman filmmaker dari Surabaya, Bandung, dan kota lain di Indonesia untuk membicarakan dokumenter. Saya akan belajar lebih mengenai film dokumenter di sini karena latar belakang saya adalah Seni Kontemporer.

Bagaimana testimoni Anda terhadap Festival Film Dokumenter 2017?

T: Sangat bagus! Saya rasa Festival Film Dokumenter bisa menjadi tempat di mana diskusi mengenai isu-isu yang sedang terjadi berawal dan mendapatkan perhatian. Dengan proses kreatif yang diperlukan, tentunya.

Recent Posts
61513d8cac38cd70688189ff756ed1e2##