Penjurian Dokumenter Pendek dan Barometer Perkembangan Dokumenter Indonesia

Proses Penjurian Kategori Dokumenter Pendek

Kamis (8/12) lalu, telah dilaksanakan penjurian Festival Film Dokumenter 15 kategori Dokumenter Pendek. Proses penilaian yang memakan waktu kurang lebih 6 jam ini dilakukan oleh tiga tokoh tersohor dari berbagai bidang. Mereka adalah Eric Sasono (Kritikus Film), F.X. Harsono (Seniman), serta Yosep Anggi Noen (Filmmaker).

Proses penjurian kembali digelar di gedung Dreamlight World Media, Ngupasan, Yogyakarta. Proses penjurian dimulai pukul 09.15, dan diawali dengan sesi screening film-film finalis hingga pukul 13.00. Tahun ini, terdapat 9 film dokumenter pendek terpilih di fase final, yaitu: Anak Koin, Generasi Sekian, Jembatan Sibuk, Mata Elang, Miang Meng Jakarta, Petani Terakhir, Senandung Sunyi Samudera, dan Sepanjang Jalan Satu Arah. Selepas screening, proses penjurian dilanjutkan dengan sesi diskusi penentuan pemenang yang memunculkan dialektika baru. Di tengah penjurian, Yosep Anggi Noen menyampaikan bahwa dirinya merasa dokumenter Indonesia tengah mengalami problematika yang serius.

“Saya merasakan kegagapan yang begitu besar dalam penggunaan peralatan baru. Setiap film dokumenter yang menggunakan DSLR selalu nampak palsu. Kamera tidak seperti mata. Selain itu, karena kemampuan untuk memiliki kamera jadi begitu mudah, dalam satu dokumenter bisa menggunakan 3-4 kamera sekaligus. Ini memunculkan orientasi yang begitu rumit. Arah film menjadi tidak jelas. Kita tiba-tiba jadi misplaced,ujar sutradara film Istirahatlah Kata-Kata – yang baru saja meraih Golden Hanoman di gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) minggu lalu.

Tidak hanya Anggi, dua juri lainnya pun ikut mengamini problem tersebut. “Masih ada film-film yang mengangkat tema yang menguatkan stereotip, kerja kamera yang masih punya kesalahan-kesalahan mendasar. Saya berharap lebih besar daripada itu,” tambah Eric Sasono.

Menanggapi Festival Film Dokumenter yang tahun ini mencoba membuka kesempatan film internasional untuk ikut berkompetisi di kategori Dokumenter Panjang, pria yang juga menjawat sebagai sekretaris Board of Directors InDocs ini berharap bahwa kategori pendek tidak perlu untuk berubah seperti itu. “Menurut saya tujuannya harus berbeda. Kompetisi Pendek lebih cocok untuk mengasuh bakat-bakat baru yang sedang tumbuh. Maka, seharusnya kompetisi ini dipertahankan dalam skala nasional dan menjadi benchmark bagi perkembangan film dokumenter di Indonesia,” Tungkasnya. [Anas AH]

Recent Posts
41bd7ce83b5f8b92597cec12b5b3a105BBBBBBBBBB