Penjurian Dokumenter Panjang dan Enigma Keberagaman Konten Dokumenter

Proses Penjurian Kategori Dokumenter Panjang

Penjurian kategori Dokumenter Panjang Festival Film Dokumenter (FFD) ’15 telah usai dilaksanakan pada Rabu (7/12) lalu. Sebelumnya, proses kurasi internal festival telah memilih 7 dari 53 film dokumenter panjang yang masuk tahap penjurian final. Film-film tersebut antara lain adalah: I Want To Be A King, Red Clothes, Shadow Girl, Roshmia, Nokas, Bulu Mata, dan Potongan. Agenda utama penjurian adalah menentukan beberapa film yang layak untuk menjadi yang terbaik di gelaran FFD tahun ini.

Proses penjurian digelar di dalam gedung Dreamlight World Media, Ngupasan, Yogyakarta. Dengan tiga tokoh perfilman sebagai juri yang namanya sudah santer di dalam kancah perfilman internasional. Masing-masing adalah John Badalu (Pendiri Q! FIlm Festival), Lisabona Rahman (Pegiat film dan editor Katalog Film Indonesia), serta Ranjan Palit (Filmaker dan sinematografer asal India).

Tahun ini, tidak ada sesi screening film-film finalis karena film sudah dipertontonkan pada tiap juri di lain waktu. Proses penjurian hanya memfasilitasi diskusi untuk membahas dan menentukan film-film yang terbaik tahun ini. Sesi diskusi berlangsung selama kurang lebih 40 menit. Tidak banyak bahasan yang keluar pada saat penjurian karena masing-masing juri tidak menemukan perdebatan besar dalam menentukan film-film terbaik. Penjurian dimulai pukul 13.00 hingga 13.40, sebelum ditutup dengan sesi makan bersama.

Perihal pagelaran FFD yang pertama kalinya membuka kesempatan bagi dokumenter internasional untuk ikut bersaing di kategori Dokumenter Panjang, para juri menyambut baik keputusan ini. “Sebagai penyelenggara festival bagi film dokumenter tertua di Asia Tenggara, program ini tergolong menarik,” ujar Ranjan Palit.

John Badalu, yang merupakan salah satu pendiri Q! Film Festival, turut memberi energi positif pada gelaran FFD agar bisa berkembang lebih baik lagi dan menjadi festival dengan taraf internasional secara utuh. Pasalnya, festival yang telah menginjak usia ke-15 penyelenggaraannya ini masih minim peserta dari luar Indonesia. “Untuk sebuah kompetisi internasional, kompetisi ini masih kurang memiliki keberagaman konten film karena masih berpusat pada Asia, bahkan Indonesia. Sebagai festival internasional, keberagaman peserta masih harus ditingkatkan,” tambah John Badalu. [Anas AH]

Recent Posts
da0fb8db6d52a268e41e0c97ae9c586cOOOO