Melampaui Keterbatasan lewat Dialog Realitas Virtual

virtual-reality

Dalam salah satu rangkaian program UK|ID 2016 – bentuk kerjasama dengan British Council, Festival Film Dokumenter tahun ini akan mengusung isu keterbatasan lewat tajuk Melampaui Keterbatasan. Keterbatasan sendiri menjadi hal nyata dalam bagian dari hidup kita sebagai manusia, yang sayangnya kerap hanya dipandang sambil lalu oleh kebanyakan orang. Keterbatasan ini dapat bersifat fisik, kognitif, mental, indrawi, emosional, perkembangan, atau pula kombinasi dari hal-hal tersebut. Berangkat dari keprihatinan akan fenomena ini, Festival Film Dokumenter pun merasa perlu untuk memberi fasilitas terhadap keterbukaan sebuah dialog, memfasilitasi ruang dalam bentuk medium saling berbagi pengetahuan antar individu dan juga organisasi dalam perjuangan hak-hak kelompok disabilitas.

Program ini sendiri nantinya akan dibagi menjadi dua bagian yang dibuka dengan eksibisi dua film VR Notes on Blindness karya Peter Middleton & James Spinney dan In My Shoes: Dancing With Myself, beserta Presentasi & Interactive Performance dari sang pembuat film dokumenter VR In My Shoes: Dancing With Myself, Jane Gauntlett, pada 23 November esok di Café Melting Pot (Jl. Suryodiningratan No. 37, Mantrijeron, Yogyakarta) pukul 16.00 – 21.00 WIB. Dibungkus dalam format diskusi ringan mengenai disabilitas, program kunjungan yang terbuka untuk umum ini akan membahas tentang kegiatan-kegiatan advokasi yang telah dilakukan oleh Jane Gauntlett selama ini. Medium VR sebagai sarana advokasi diharapkan dapat menjadi implementasi pengalaman menonton dengan sudut pandang berbeda: bagaimana paduan sinema, teater, dan teknologi dalam cerita yang diterjemahkan ke medium VR, mengajak kita lebih memiliki empati terhadap isu disabilitas.

melampaui-keterbatasan-e-poster

Pengunjung pada diskusi kali ini nantinya dapat mencoba alat VR yang menyuguhkan film In My Shoes: Dancing With Myself dengan muatan cerita tentang Jane, sang filmmaker, dari sudut pandangnya sebagai penderita kelainan saraf. Montase filmnya menempatkan kita dalam pengalaman serangan berkala dalam point-of-view Jane, yang membuat kita merasa seolah tak memiliki kontrol atas pikiran, kata-kata, dan apa yang dia ingin atau telah lakukan. Kisah dari perspektif lakon utamanya ini akan membawa kita masuk dalam pikiran-pikiran yang dipenuhi surealisme, rasa malu, dan kasih sayang – menciptakan pengalaman teatrikal yang menyedot pun empatis sepanjang 13 menit jalannya film.

Selain acara yang akan digelar pada 23 November esok, program Realitas Virtual yang menjadi usungan perdana dalam helatan Festival Film Dokumenter tahun ini adalah acara Eksibisi & Interaktif kedua film di atas yang akan diselenggarakan selama hari H Festival Film Dokumenter 15 | Displacement (7-10 Desember 2016) yang berlokasi di Kelas Pagi Yogyakarta. [Dwiki Aprinaldi]

Recent Posts
9a899d73a9f01384a555d02de277de4diiiiiiii