Enam Sisi Representasi Remaja Perempuan dalam Diskusi

Ismi Ranjani, Sri Wahyaningsih, Sani Widowati (dari kiri ke kanan)

Diskusi pada hari ketiga gelar Festival Film Dokumenter 15 yakni Apa Yang Tidak Dibicarakan Saat Membicarakan Perempuan telah usai dilaksanakan pada Jum’at (9/12) lalu. Diskusi yang turut menyertakan Sani Widato sebagai moderator serta Sri Wahyaningsih dan Ismi Rinjani sebagai penanggap ini dihadiri oleh ramainya para audiens, tidak hanya kawula muda pun paruh-baya, beberapa orang tua juga menyempatkan waktunya untuk hanyut dalam dinamika diskusi sore itu.

Diskusi ini membahas mengenai isu yang ada dalam kehidupan remaja perempuan Indonesia yang direpresentasikan melalui film Kembang 6 Rupa. Film besutan Kampung Halaman tersebut terbagi kedalam 6 film pendek yang masing-masing mengisahkan tentang kehidupan remaja perempuan dari 6 daerah berbeda di Indonesia. Film pertama mengisahkan tentang Pipit, remaja perempuan kelas 2 SMA asal Sumedang yang merupakan siswi aktif di sekolahnya. Ia memiliki bakat yang kuat dalam bidang olahraga dan tak jarang mengikuti perlombaan hingga tingkat Provinsi, prestasi-prestasi yang ia capai dalam bentuk piala mampu menghiasi lemari kaca tempat penghargaan yang ada di sekolahnya. Pipit yang hanya seorang warga desa, memiliki cita-cita ingin menjadi guru olahraga suatu saat.

Film kedua mengisahkan tentang Agnes, remaja asal Wamena yang terpaksa putus sekolah karena ia hamil di luar nikah pada masa remajanya. Tak banyak yang dapat ia lakukan selain mengurus anak, mengurus hal-hal rumah tangga dan membuat noken. Tas rajut khas Papua tersebut ia jahit sendiri dan kemudian ia jual agar dapat menyambung hidup serta membantu keluarganya. Hasil penjualan yang sedikit menghasilkan keuntungan tersebut tidak membuat Agnes patah semangat untuk terus menabung guna melanjutan sekolahnya lagi.

Adalah Anih, remaja SMP asal Kuningan yang harus merasakan langsung kentalnya diskriminasi pada masa remajanya. Kesetiaannya dalam menganut agama Sunda Wiwitan membuatnya kesulitan dalam mengurus pendataan negara maupun pendidikan. Ia terpaksa harus memanipulasi KTP nya dengan mengaku sebagai penganut agama lain. Kesulitan dalam mengurus administrasi juga dirasakan oleh Ibu Anih dimana anak ketiganya, atau adik Anih tidak dapat mendaftar sekolah dikarenakan tidak memiliki akta kelahiran dengan alasan perkawinannya dengan suaminya tidak dianggap perkawinan beragama. Anih memiliki harapa agar suatu saat agama Sunda Wiwitan diakui sebagai agama resmi di Indonesia, dan juga untuk agama-agama lain yang memiliki permasalahan yang sama, agar budaya yang diwarisi nenek moyang tersebut tidak punah hanya dengan menuruti birokrasi negara.

Film selanjutnya mengisahkan tentang Maesarah, remaja perempuan asal Sumbawa NTB yang sedang duduk dibangku Sekolah Menengah Atas memiliki keinginan untuk bekerja di Malaysia setamat dari SMA. Ia memiliki keinginan tersebut dikarenakan ia memiliki tetangga yang telah bekerja di Malaysia dan nampak senang serta sukses berdasarkan apa yang tetangganya unggah di Facebook. Ia pun juga didukung oleh guru di sekolahnya agar bekerja di Malaysia, karena mereka beranggapan bekerja di negeri tetangga akan menghasilkan uang yang banyak. Namun orang tua Maesarah masih berat untuk menyetujui dengan alasan tidak ada biaya, mengingat Ayah Maesarah hanyalah seorang nelayan dan Ibu Maesarah adalah seorang penjual roti keliling.

Film kelima dalam diskusi ini menunjukkan semangat juang para remaja perempuan di Wedomartani, Sleman yang tergabung dalam Karang Taruna GEMA 55. Semangat mereka dalam mengisi suatu kegiatan seperti takbiran dalam rangka Idul Adha terkadang tidak didukung secara langsung oleh para oangtua sebagai tetua yang seharusnya dapat memberikan tuntutan. Selain itu, menurut Lala, salah satu pemudi di GEMA 55 berpendapat bahwa Karang Taruna GEMA 55 kurang berkembang dalam berkegiatan dikarenakan tidak adanya evaluasi pasca kegiatan dilaksanakan, karena menurutnya evaluasi perlu dipaparkan kepada semua anggota Karang Taruna agar dapat berkembang bersama-sama.

Film terakhir dalam diskusi tersebut mengisahkan tentang remaja perempuan asal Indramayu, Ika, begitu orang-orang memanggilnya. Remaja perempuan yang merasa dikucilkan dan tidak diurus oleh keluarganya sendiri, terlebih Ibunya merupakan single-parent paska cerai dengan sang Ayah. Ika yang masih berumur belia, ingin mengadu nasib di Jakarta sebagai pegawai di sebuah tempat pijat dan karaoke. Menurutnya, kerja di Jakarta akan menyenangkan dan mendapat uang banyak, tidak seperti di kampungnya, kampung Amis yang membosankan. Keinginan Ika tersebut ditentang oleh sang Ibu, karena khawatir dengan kehidupan di Jakarta serta mengingat umur Ika yang masih sangat muda cukup rawan untuk masuk ke dalam pergaulan dan gaya hidup yang salah. Pertentangan tersebut membuat Ika dan sang Ibu tidak akur dan tidak saling berkomunikasi satu sama lain.

Screening Kembang 6 Rupa ‘Apa Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Remaja Perempuan’

Ada beberapa isu serta permasalahan yang muncul dalam film tersebut yang kemudian menuai beberapa tanggapan serta pendapat dari audiens maupun dari pembicara. Isu yang hadir salah satunya bahwa keadaan remaja perempuan pada film tersebut dipengaruhi oleh beban tradisi masing-masing daerah yang  justru menjebak mereka untuk menjalani kehidupan dengan alur yang rigid, minim kebebasan. Menurut Ismi Rinjani, isu tersebut betul adanya, salah satu pemicunya adalah beberapa remaja Indonesia saat ini kehilangan sosok orang tua dalam hidup mereka. Ketika seorang remaja tidak mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan dari orang tua maka secara otomatis akan mencari panutan lain yang dirasa dapat membimbing mereka dalam menemukan tujuan hidup.

“Dalam film tersebut, guru yang utama dan yang mereka agungkan justru adalah handphone. Terlihat bagaimana kuatnya sosial media mengendalikan pikiran dan hidup mereka. Dan pada saat yang sama, peran orang tua sudah tidak ada. Nilai-nilai yang seharusnya ada dalam keluarga justru tidak nampak dan tidak muncul perannya. Ada pula adat istiadat yang tidak memihak perempuan, padahal seharusnya pada jaman ini adat tetap harus menyesuaikan perkembangan jaman agar dapat dijalani sesuai dengan kebutuhan hidup saat ini,” tutur Sri Wahyaningsih.

Pendapat lain juga dilontarkan oleh beberapa audiens. Ada yang berpendapat bahwa untuk saat ini konteks pendidikan hanyalah sekolah formal 9-12 tahun, di mana mereka menganggap bahwa bersekolah merupakan jaminan hidup sejahtera. Banyak kasus di mana para orang tua di desa rela mati-matian berladang hingga menjual ladangnya agar sang anak dapat sekolah kedokteran atau menjadi polisi. Padahal, konsep sekolah yang baik dan seharusnya adalah belajar seumur hidup untuk berkomunitas, bersosialisasi, bertatap muka dengan tujuan untuk mengembangkan diri dengan hal-hal baru serta menumbuhkan seseorang sesuai dengan kepribadiannya. “Stigma kesuksesan harus diubah. Justru setiap orang harus memiliki potensi yang kuat yang siap untuk dikembangkan. Maka, ketika ada kekosongan peran sebagai orang tua, sekolah ataupun masyarakat, kita tidak boleh diam. Kita perlu untuk memperjuangkan nilai-nilai leluhur kita” kata Sri Wahyaningsih.

Pun menurut Ismi, manusia tentu memiliki perannya masing-masing, dan peran tersbeut harus dimaksimalkan dengan baik karena jangan sampai keturunan kita selanjutnya tidak dapat merasakan fungsi perannya masing-masing ataupun peran orang lain di hidupnya sehingga menyebabkan menjadi tidak sesuai dan tidak seharusnya. Selain itu, menurut sang moderator yakni Sani Widowati, belajar itu seharusnya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, bukan dengan jawaban-jawaban, serta dilakukan penemuan yang terus menerus tentang tujuan hidup.

Diskusi Kembang 6 Rupa ‘Apa Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Remaja Perempuan’

Isu lain yang terdapat dalam film tersebut adalah tentang bias gender. Dalam film tersebut hanya sedikit yang menampilkan peran laki-laki sebagai ayah yang seharusnya memberikan tuntunan dan arahan yang baik dalam membentuk tujuan hidup anaknya. Hal tersebut merupakan ironi yang kerap muncul di permukaan, namun sayangnya masih luput dari perhatian kita sebagai manusia yang bermasyarakat. Seorang audiens yang adalah seorang Ibu rumah tangga menuangkan keresahannya dalam diskusi, ia memberikan pertanyaan yang patut menjadi bahan refleksi para masyakarat Indonesia.

“Pernah tidak terpikir oleh kita, kenapa seringkali manusia risau dengan ibu yang tidak bisa memasak, namun tidak pernah risau dengan ayah yang tidak bisa menjadi pemimpin dalam keluarga?” ungkapnya. Ia berharap, agar para laki-laki, terlebih para pemuda di Indonesia tetap menjaga dengan baik fungsi dan kodratnya sebagai laki-laki, yang identik dengan pemimpin, identik dengan peran yang mengayomi agar stigma “keluarga sejahtera” yang saat ini masih sekedar mitos belaka dapat benar-benar ada dan menjadi contoh baik kepada kelurga-keluarga lain diluar sana serta kepada masyarakat. [Justicia Handykaputri]

Recent Posts
ba484d979b80784c6392fb5c055b0dbd))))))))))))))))))))))))