Melepaskan Masa Lalu dari Penunggalan Sejarah melalui Diskusi

Diskusi Spektrum | Dear Memory: Kebersituasian, Minggu, (10/12) IFI-LIP Yogyakarta

Berangkat dari pemutaran film pada program Spektrum | Dear Memory: Kebersituasian, Festival Film Dokumenter 16 turut menggelar sesi tanya jawab pada Minggu (10/12) lalu. Bertempat di IFI-LIP, sesi ini dihadiri Akbar Yumni (Jurnal Footage), Sebastien Simon (Sutradara The Troubled Troubadour), serta Amerta Kusuma (Produser The Origin of Fear).

Menyajikan 3 film; The Origin of Fear (Bayu Prihantoro Filemon, 2016), Memoria (Kamila Andini, 2016), The Troubled Troubadour (Sebastien Simon, 2016), program ini mengangkat bagaimana sejarah tidak melulu sesuatu yang tertera pada teks kekuatan politik-ekonomi tertentu. Upaya mengkonstruksi ulang masa lalu lewat narasi-narasi rezim kebenaran tertentu adalah kenaifan dan hanya akan mereduksi sejarah menjadi kebenaran tunggal yang kaku dan tertutup untuk diperbincangkan. Melalui tiga film tadi, Festival Film Dokumenter mencoba menghadirkan masa lalu lewat memori yang tidak bisa dipisahkan dari momen, trauma, speech act, membuatnya sebagai sesuatu yang personal.

The Origin of Fear, film garapan Bayu Prihantoro Filemon yang mengaburkan batas antara fiksi dan dokumenter. Film yang merupakan bagian empat film di antologi film ’65 ini, menghadirkan eksplorasi audio terhadap karya monumental narasi rezim Orba terkait tragedi ’65, Pengkhianatan G-30-S/PKI.

Eksplorasi suara yang dihadirkan Bayu Prihantoro Filemon di filmnya menjadi menarik sebagai upaya memahami masa lalu. Pasalnya, The Origin of Fear lahir sebagai respon atas kegelisahan individu dan kolektif bagaimana karya Arifin C. Noer tersebut tidak bisa dilepaskan dari trauma yang diciptakannya. Kegelisahan bagaimana semua teks rezim Orba dalam melihat tragedi tersebut, tidak memberi ruang untuk dilakukan pembacaan ulang. Tersebutlah dokumen Lemhanas berjudul Bahan-Bahan Pokok G-30-S/PKI dan Penghancurannya (1968) hingga film Arifin C. Noer tersebut, yang semuanya menghadirkan hitam-putih-nya pembacaan rezim Soeharto soal tragedi ‘65. The Origin of Fear kemudian menjadi anti-tesis terhadap pendekatan naratif yang dilakukan rezim Orba, dengan menampilkan tindak-tindak performatif.

Genosida intelektual yang dilancarkan rezim Soeharto di kampus-kampus, hingga pemberangusan diskursus-diskursus alternatif lewat artikel Benedict Anderson Kudeta 1 Oktober 1965 Sebuah Analisis Awal (1971) misal, meninggalkan permasalahan bagi generasi yang terpisah ruang-waktu dari peristiwa ‘65. Mereka praktis hanya memiliki sumber dari rezim Orba dalam memahami tragedi tersebut. Keterpisahan ruang dan waktu tersebut yang kemudian Bayu atasi dengan menampilkan sejarah sebagai suatu tindak performatif lewat pembacaan sumber-sumber personal.

“Eksplorasi suara yang dilakukan The Origin of Fear menawarkan wacana baru. Ia tidak lagi membicarakan bukti baru, temuan baru, tapi menangkap efek traumatis yang tercipta dari suara-suara karena suara itu sendiri lebih imajinatif dari gambar,” ungkap Akbar.

“Pada fase riset kita menemukan bahwa sangat memungkinkan pada proses produksi film tersebut, suara dua orang sebagai korban dan pelaku, diisi oleh satu orang yang sama. Di sinilah kekuatan suara-suara yang dihadirkan untuk menciptakan suatu emosi tertentu, seperti yang dapat kita disaksikan di film ini,” penjelasan Amerta terkait mengapa memilih mengeksplorasi aspek audio dari Pengkhianatan G-30-S/PKI.

Diskusi Spektrum | Dear Memory: Kebersituasian, Minggu, (10/12) IFI-LIP Yogyakarta

Diskusi menjadi menarik ketika seorang peserta menyajikan fakta yang mengamini pernyataan film ini. Bahwa terdapat lebih banyak adegan tentang keharmonisan keluarga dalam Pengkhianatan G-30-S/PKI, namun penggunaan suara-suara dalam film inilah yang pada akhirnya meninggalkan trauma dan ketakutan bagi para penontonnya.

Lebih lanjut, Akbar Yumni menjelaskan bahwa absennya diskursus-diskursus alternatif akibat genosida intelektual rezim Orba membuat publik terjebak pada tradisi penunggalan sejarah. Tradisi yang celakanya, telah masuk begitu dalam ke ruang-ruang yang tidak seharusnya memberi tempat kepada tradisi ini. Maka yang terjadi adalah tiap pihak saling mensakralkan kebenarannya dan tidak memberi ruang terhadap pemahaman akan masa lalu yang dialami tiap pihak.

Sementara The Troubled Troubadour salah satu dari dua film Sebastian Simon di gelaran FFD tahun ini, menyajikan memori lewat perjalanan menuju kematian. Eksplorasi mitologi dari Korea Selatan, Amerika Serikat, Meksiko hingga Skandinavia yang dipadukan dengan metafor-metafor visual membuat memori menjadi perihal yang sangat personal di film ini. Bagaimana sang tokoh utama bergelut dengan segala kompleksitas permasalahan yang ia hadapi dalam perjalanan menuju kematian.

“Saya rasa sudah cukup jelas sejak awal bahwa film ini membicarakan kematian. Bahkan sang tokoh utama sendiri telah beberapa kali mati secara simbolik,” ungkap Simon.

Diskusi Spektrum | Dear Memory: Kebersituasian, Minggu, (10/12) IFI-LIP Yogyakarta

Realita teks multitafsir ini ia gunakan untuk membicarakan beberapa permasalahan. Peliknya sejarah Jepang-Korea Selatan misal, Simon tampilkan lewat latar belakang sang tokoh utama dan dualisme identitas Jepang-Korea Selatan yang ia hidupi.

“Sang tokoh utama adalah seorang berkebangsaan Jepang. Dualisme identitas ini bisa dilihat ketika ia berbicara pada tokoh berkebangsaan Jepang lain, ia menggunakan bahasa Jepang. Sementara ketika ia berbicara pada tokoh dengan latar belakang mitologi Korea Selatan misal, ia menggunakan bahasa Korea,” ujar Simon.

Dualisme identitas ini kemudian membawa kita pada permasalahan yang dialami sang tokoh utama. Bagaimana ia menghadapi memori berupa stigma yang dilekatkan pada dirinya sebagai seorang musisi oleh ayahnya sendiri, serta caranya ‘berdamai’ dengan memori akan stigma tersebut. Relasinya dengan sang anak perempuan, istri, hingga romantisme masa lalu sebagai musisi, semua menghadirkan konflik Jepang-Korea Selatan dalam dimensi personal sang tokoh utama. Selaras dengan program ini,  The Troubled Troubadour menghadirkan konflik Jepang-Korea Selatan dalam bentuk non-naratif lewat tindak-tindak performatif berupa eksplorasi mitologi hingga metafor-metafor visual.

Pendekatan serupa dalam melihat masa lalu juga disajikan Kamila Andini dalam Memoria. Film yang berkisah tentang konflik personal seorang korban kekerasan seksual ini, memberikan perspektif lain dalam melihat okupasi Indonesia terhadap Timor Leste. Melalui kisah Maria, tokoh utama dalam film ini, Kamila menyajikan betapa perang tidak berhenti pada konflik bersenjata. Ia mengubah sendi-sendi kehidupan bermasyarakat di mana konflik itu terjadi.

Memoria sendiri merekam bagaimana konflik bersenjata memiliki dampak yang begitu destruktif terhadap relasi sebuah keluarga. Trauma serta ketakutan yang dialami Maria tidak berhenti pada dirinya, namun ikut mempengaruhi relasinya dengan sang anak. Membuat maria terpenjara penunggalan sejarah yang menganggap konflik tersebut telah usai. Bagaimana perdamaian berhenti pada selembar kertas perjanjian antar elit, jauh dari realita penuh trauma yang Maria hidupi.

Recent Posts
77b70f2283834c85284ef15ffdbb6f09HHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH