Virtual Reality (VR): Mengalami Realitas Disabilitas

Notes on Blindness: Into Darkness (Arnaud Colinart & Amaury La Burthe, 2016)

Notes on Blindness: Into Darkness (Arnaud Colinart & Amaury La Burthe, 2016)

Kepedulian terhadap liyan agaknya lebih mudah muncul manakala manusia pernah atau tengah terperangkap pada suatu pengalaman maupun kondisi serupa. Terlebih apabila kondisi tersebut merujuk pada keterbatasan, baik keterbatasan yang permanen maupun temporer. Perasaan senasib sepenanggungan mampu menyuburkan rasa empati bagi siapapun yang pernah merasakan keterbatasan. Bisa jadi, hal inilah yang membuat kepedulian terhadap penyandang disabilitas kerap dipandang sambil lalu. Pengalaman mereka ketika mengalami kesulitan sewaktu  mengakses ruang-ruang publik justru menjadi pengalaman yang tak dapat dirasakan sembarang orang.

Dengan teknologi Virtual Reality (VR), Festival Film Dokumenter berupaya menghadirkan telusur alternatif mengenai bagaimana para penyandang disabilitas melampaui keterbatasan mereka. Laiknya penjelajah astral, program kerjasama dengan British Council lewat rangkaian program UK | ID 2016 mengajak kita untuk melakukan perpindahan, keluar dari tubuh, lantas hinggap ke raga lain. Jane, seorang penderita kelainan saraf yang merasakan hidup penuh surealisme, rasa malu, dan kasih sayang lantaran manifestasi penyakit epilepsi yang diidapnya dalam In My Shoes: Dancing With Myself (Jane Gauntlett, 2015). Kompleksitas penyakit Jane seakan-akan menghadirkan ‘hewan buas’ yang membuatnya seolah tak sanggup mengontrol pikiran, kata-kata, serta apa yang dia lakukan. Upaya untuk menjelma sebagai Jane ini sempat dihadirkan pada Eksibisi, Presentasi, dan Pertunjukan Interaktif di Café Melting Pot, Suryodiningratan pada Rabu (23/11) lalu. Program yang terbuka untuk umum tersebut turut membahas mengenai kegiatan-kegiatan advokasi yang telah dilakukan Jane Gauntlett dalam format diskusi ringan.

Kesempatan untuk berpindah raga dan mengalami bagaimana rasanya menjadi Jane dapat kembali kita alami pada 7-10 Desember 2016 mendatang. Masih dalam rangkaian gelaran Festival Film Dokumenter 15 | Displacement, Program Eksibisi dan Interaktif ini akan diselenggarakan di KPY (Kelas Pagi Yogyakarta), Prawirodirjan. Menciptakan pengalaman teatrikal yang menyedot pun empatis sepanjang 13 menit melalui In My Shoes: Dancing With Myself.  Selain itu, akan ada pula sosok John Hull, seorang penyandang disabilitas yang mulai mengumpulkan catatan hariannya berupa rekaman suara usai kehilangan penglihatan pada tahun 1983. Upaya John dalam mengasah sensorik lain dalam dirinya terdokumentasi melalui sebuah film panjang Notes on Blindness (James Spinney & Peter Middleton, 2016). Film ini lantas direspon oleh Arnaud Colinart dan Amaury La Burthe lewat medium VR Notes on Blindness: Into Darkness. Sebuah dokumentasi perjalanan yang luar biasa dalam dunia di luar penglihatan, dan testimoni menyentuh dari fase kehilangan dan kelahiran kembali seorang John Hull.

Film In My Shoes: Dancing with Myself dan Notes on Blindness: Into Darkness akan terangkum dalam program bertajuk Teknologi dan Empati, salah satu menu dalam festival ini dapat diakses secara terbuka dan interaktif. [Bernadeta Diana]

Untuk jadwal lebih lanjut dapat diakses di sini

Recent Posts
da56ea332fc59feabeb6d6d40743ac6a)))))))))))))))))))))))