Spektrum | Dear Memory, Kebersituasian: Hadirnya Ingatan dalam Bentuk Variatif

Bayu Prihantoro Filemon | 12 menit | Indonesia | 2016 | 15+

Spektrum kembali hadir sebagai salah satu program dalam Festival Film Dokumenter 2017 “Post-Truth”, mengangkat tema ingatan secara spasial sebagai sebuah upaya untuk menghadirkan kembali kepingan-kepingan situasi masa lampau. Memori adalah ingatan yang di dalamnya sudah memuat kebersituasian/kontingensi sehingga kehadiran masa lalu juga selalu mengalami spasialitas.Dear Memory: Kebersituasian menghadirkan ingatan-ingatan masa lampau untuk diulang pada konteks spasial yang berbeda.

Pada pemutarannya pada 9-12 Desember 2017 mendatang, Dear Memory: Kebersituasian mencoba menghadirkan masa lalu, mengandung momen, trauma, tindak tutur, dan lain sebagainya. ‘Memori-memori’ tersebut membentuk atau bisa juga terbentuk dalam situasi darurat (emergency) dari penunggalan sejarah yang represif terhadap keragaman spasialitas pengalaman para individu.

Memori sebagai sesuatu yang nonrepresentasional hadir dalam The Origin of Fear (Bayu Prihantoro Filemon, 2016) melalui performativitas suara-suara (sound) yang efeknya bisa jauh lebih traumatik masuk ke dalam tubuh. Sebab, bisa jadi suara adalah image yang tidak perlu ditegaskan atau ditunggalkan dalam unsur visualitasnya.

Memoria (Kamila Andini, 2016), memori digunakan sebagai image yang memungkinan kesaksian-kesaksian dari situasi subaltern. Ketika  bahasa atau ‘yang terkatakan’ bisa jadi sudah tidak memadai, maka image menjadi momen kehadiran atas pengalaman masa lalu itu sendiri.

The Troubled Troubadour (Forest Ian Etsler & Sébastien Simon, 2016) menghadirkan memori bukan lagi perihal kontinuitas masa lalu yang bisa dikendalikan dalam objektivitas. Memori adalah momen peristiwa (event) dan personal, termasuk juga di dalamnya adalah momen spiritual. Ia tidak bisa diulang-ulang (metodologi), tetapi ia dimungkinkan untuk distimuli melalui suara (musik).

Kehadiran ingatan dalam bentuk memori dalam bentuk spasial yang berbeda-beda pada setiap indvidu yang berbeda, memberikan kesempatan penonton untuk membuat memorinya sendiri sebagai bentuk peristiwa sejarah. FFD melalui, Dear Memory: Kebersituasian berupaya untuk menjadi agen bagaimana memori yang spasial tersebut dapat dialami oleh masing-masing penontonnya.

Recent Posts
c25ee70b22e829b5bb5b892b86ec39e6&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&