Post-Truth: Memaknai kembali Kebenaran

The Village’s Bid For UFO

Lebih setengah abad setelah Thomas Kuhn membunuh logika positivistik di bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1962), pertanyaan apa itu kebenaran rasanya jauh lebih banyak memunculkan kembali pertanyaan daripada jawaban definitif. Lewat bukunya, Kuhn mendekonstruksi makna kebenaran dengan melihatnya sebagai sebuah diskontinuitas. Pasalnya, kebenaran dilahirkan oleh pengetahuan, dan pengetahuan akan selalu bergerak. Dinamika pengetahuan tersebut kemudian memunculkan apa yang Kuhn sebut sebagai normal science, yakni ketika sebuah pengetahuan yang telah melalui serangkaian mekanisme falsifikasi hingga disepakati sebagai kebenaran. Dan ketika gerak pengetahuan sampai pada titik di mana kebenaran tersebut tidak lagi relevan, ia pun akan digantikan oleh revolutionaire science. Hingga kebenaran baru tersebut menjadi normal science dan terjadilah siklus pengulangan serupa. Gagasan ini menjadikan kebenaran menurut Kuhn adalah sesuatu yang tidak final. Kebenaran bukanlah suatu akhir, maka ia harus terus menerus dipertanyakan.

Foucault kemudian menindaklanjuti gagasan Kuhn dalam bukunya The Order of Things (1966). Ia turut mengamini gagasan Kuhn tentang bagaimana kebenaran dibentuk oleh pengetahuan. Pengetahuan inilah yang kemudian memberikan satu pihak kuasa atas pihak lain, dan nantinya menjadi penentu wajah peradaban tersebut sehingga ia berhak untuk memainkan narasi kebenaran. Hal ini membuat setiap peradaban dalam pandangan Foucault memiliki keunikannya sendiri karena kekuasaan yang menjadi penentu peradaban tersebut digerakkan oleh pengetahuan di baliknya. Gerak pengetahuan itu pula yang membawa Foucault mengamini gagasan Kuhn tentang diskontinuitas. Ia menyatakan perlu adanya diskontinuitas yang dipicu munculnya diskursus-diskursus alternatif . Diskursus-diskursus baru yang berdiri di atas pengetahuan yang berbeda dengan diskursus dominan. Tanpa adanya diskontinuitas tersebut, sebuah peradaban akan terjebak pada satu rezim kebenaran.

Dengan mengusung Post-Truth sebagai tema pada program perspektif, hal inilah yang coba FFD tawarkan. Melalui 10 film lintas negara yang akan diputar pada 9-15 Desember 2017 esok, penonton akan disajikan narasi-narasi alternatif terhadap teks yang selama ini di tangan penguasa pembacaannya begitu hitam-putih. Narasi-narasi yang menolak terjebak pada logika positivistik dengan melihat kompleksnya konteks yang menyelimuti hadirnya sebuah kebenaran. Narasi yang tidak ingin mereduksi peradaban dan segala dinamikanya menjadi satu versi kebenaran final.

Dan serangkaian fenomena dari politik identitas hingga populisme sayap kanan, dari Trump hingga Pilkada DKI Jakarta rasanya lebih dari cukup untuk memberikan gambaran mengenai peradaban macam apa yang sedang kita hidupi. Serta pengetahuan seperti apa di balik para penguasanya sehingga melahirkan kebenaran yang hanya berperan sebagai instrumen untuk melanggengkan kuasanya. Tentu bukan perkara mudah menghadirkan narasi alternatif, sabda Foucault. Sebagai penentu peradaban, diskursus dominan akan menggunakan segala organ kuasanya untuk melakukan perlawanan. Namun inilah yang dilakukan Watching The Detective (Chris Kennedy, 2017). Dalam bingkai pencarian pelaku tragedi Boston Marathon Bombing di sebuah forum diskusi daring, ia mencoba menangkap bagaimana fenomena tersebut bisa menjadi gambaran kompleksnya konteks sosial politik dan sentimen SARA yang mensegregasi masyarakat Amerika Serikat. Bagaimana dampak kebenaran yang berdiri di atas ketakutan imajiner.

Atau bagaimana keputusasaan terhadap segala bentuk otoritas pasca insiden nuklir Fukushima, membawa sekelompok individu bergerak untuk mengalahkan ketakutan kolektif dan menyuarakan kebenaran yang mereka yakini di Tell the Prime Minister (Eiji Oguma, 2015).

Kisah kelam mereka yang mengerti betul makna klandestin. Upaya memberikan mereka suara karena selama ini tidak pernah didengar di Landscape for a Person (Florencia Levy, 2016). Disusun dengan materi yang diambil lewat Google Street View dan diimbuhi audio wawancara dari individu-individu yang terjebak konflik, transit, dan deportasi, membuat ‘klandestin’ menjadi kata yang tepat untuk merangkum film ini.

Pantja Sila: Dream and Reality (Tino Saroengallo & Tyo Pakusadewo, 2017) yang merekam bagaimana sebuah teks, tanpa pembacaan akan selamanya hanya menjadi teks. Lalu siapa punya kuasa untuk melakukan pembacaan? Tentu saja setiap individu. Tapi pembacaan versi mana yang pada akhirnya akan menjadi diskursus dominan hingga ia menciptakan realita baru yang didasarkan pada pembacaan teks tersebut?

Atau kisah tentang fetish militerisme yang melanda Indonesia pasca ’65 di The Red Barred (Agus Darmawan & Sakti Parantean, 2017). Dengan mengikuti tokoh Sirwan dan kiprahnya di ormas paramiliter Pemuda Pancasila, ia merekam Indonesia sebagai sebuah peradaban yang belum selesai dengan logika positivistik.

Selaras dengan pandangan Foucault, FFD di tahun ke-16-nya melihat film sebagai sebuah medium pertarungan kebenaran. Ia hadir untuk menawarkan narasi-narasi alternatif. Narasi yang memberikan keberpihakan terhadap pihak-pihak yang selama ini dibungkam suaranya oleh tirani mayoritas. Melalui realitas yang dibangun dalam tiap film di program ini, ia akan memunculkan diskursus-diskursus baru yang terbuka untuk terus dipertanyakan. Sehingga kebenaran tidak lagi menjadi monopoli sebagian pihak dan membawa peradaban tersebut menjadi layaknya Oceania di novel George Orwell, 1984.

Recent Posts
7137d1951b077cd3779d02cb22f9800cPPPPPPPPPPPPPPPPPP