Focus Japan: Jepang Dalam Narasi

Doglegs (Heath Cozens, 2015)

Doglegs (Heath Cozens, 2015)

Berkolaborasi dengan Japan Foundation, tahun ini Focus Japan turut memeriahkan dinamika Festival Film Dokumenter pada tanggal 7 – 10 Desember 2016 mendatang, dengan sajian film dokumenter yang mengajak penonton untuk mengenal Jepang lebih dekat dari sudut pandang yang berbeda. Sebuah abstraksi yang kental dengan sentuhan seni dan nilai-nilai kehidupan yang menggugah kepekaan. Tidak jauh dari tajuk Displacement yang diangkat oleh Festival Film Dokumenter tahun ini, Focus Japan mengangkat perspektif ruang dokumenter Jepang yang tentu tidak dapat disamakan dengan negara lainnya di Asia. Mengingat kultur sinema panjang pun mapan dari negara ini.

Cerminan kultur sinema yang cukup mapan tersebut menggambarkan pergulatan antara batin dan logika manusia terhadap sesuatu yang janggal dan tidak biasa, namun tetap dan selalu ada di setiap lembar cerita kehidupan masyarakat. Salah satunya stigma akan hal ketika seorang atlet pegulat yang umumnya memiliki kondisi fisik yang ‘normal’ dan utuh agar dapat tampil prima dan maksimal terbantahkan dengan penyandang disabilitas yang memilih untuk menjadi atlet gulat provokatif di film Doglegs (Heath Cozens, 2015, Japan/USA/Canada). Atau perayaan atas sepinya hidup dengan memutar kembali memori lama, memori yang penuh dengan riuhnya tawa yang gempita sekaligus haru biru yang membuat ingatan beku, menghadirkan kembali memori tentang keluarga, kekalahan perang, serta kematian  dalam Ryoko Kaban (Timoteus A. Kusno, 2016, Japan/Indonesia).

Karya puitis yang mengisahkan meleburnya dua pertemuan antara putihnya salju dengan anak-anak yang merupakan penghormatan terhadap film dokumenter Robert Flaherty Nanook of the North. Mengisahkan tentang ekspresi warna putih dengan anak-anak dalam lanskap unik di mana terdapat kurva kubah di dalamnya lewat Ponpoko Mountain (Takayuki Yoshida, 2016).

Melalui jalan cerita dan substansi dari film-film dalam program ini, FFD membentuk harapan agar masyarakat yang jauh dari kata statis ini tetap mampu merefleksikan stigma-stigma klise yang kerap menjadi normalisasi atas kerancuan dalam hidup. Dengan mempertimbangkan nilai-nilai kehidupan yang kerap luput dari perhatian masyarakat.

Selain itu, melalui Focus Japan, para penikmat dapat melihat secara komprehensif atas demografi, kultur, seni, infrastruktur, politik, ekonomi, dan gagasan-gagasan. Melalui narasi, visual, maupun iringan-iringan musik yang dibungkus menarik dengan tetap menyimpan banyak hal yang dapat membangun empati dan logika pikir secara berbeda. Lewat kerangka yang ditawarkan program ini dalam melihat Jepang. [Justicia Handykaputri]

Untuk jadwal lebih lanjut dapat diakses di sini

Recent Posts
9480c57d5bd2b257d041144dd57279ec2222222222222222222222