Docu Francaise: Kesederhanaan dalam Cerita

Waiting for The (T)rain (Simon Panay, 2015)

Waiting for The (T)rain (Simon Panay, 2015)

Kurang (dan\atau) lebih, mengingatkan kita apa yang menjadi hidup – setidaknya kita selalu bertemu dengan dua kata tersebut. Bahkan saat menghadapi pilihan atau hal paling sederhana. Kelelahan atas berbagai hal yang berlebih, terkadang mendorong kita untuk menemukan hal-hal yang lebih sederhana.

Beberapa cerita kehidupan: sebuah pilihan, kesenangan, kemarahan, empati, dan simpati. Kemunculan sudut pandang tersebut bisa jadi mengubah cara kita dalam bertahan hidup, bahkan melihat kehidupan lainnya. Bahwa kekurangan bisa jadi sebuah kelebihan,  dan sebaliknya, kelebihan bisa jadi sebuah kekurangan.

Sebuah program sederhana dalam salah satu sub-program Parsial FFD 2016, Docu Francaise, mencoba mengajak penonton beradaptasi ketika memisahkan serta mendefinisikan kembali dua kata singkat; kurang itu lebih. Film-film dalam program ini memperlihatkan tentang keseharian yang kita lewati dan kerap terlupa.

Sebuah narasi mengenai genosida direkonstruksi secara perlahan melalui batu-batu dan reruntuhan monumen. Mereka-ulang peristiwa yang membunuh dan menghilangkan kelompok tertentu di tangan rezim otoriter Yugoslavia tahun 1992. Pemerintah dan Gereja Ortodoks bergerak membangun kembali reruntuhan, menulis ulang sejarah kuno, tepat di tempat yang sama dalam Kamen-Les Pierres (Florence Lazar, 2014)

Penelusuran dan investigasi oleh seorang pembuat film akan sebuah kasus kriminal yang menjadi urban legend di Tunisia. Teror perempuan-perempuan yang dianggap berpakaian tidak senonoh sebelum revolusi dimulai menyelimuti Tunis. Hal menarik terekam kala mayoritas masyarakat Tunisia menjustifikasi perbuatan kriminal Challat – si pelaku – di tengah pencariannya di Le Chalat de Tunis (Kaouther Ben Hania, 2013)

Narasi mengenai sebuah jalur kereta yang melintasi desa kecil di Burkina Faso. Penduduk desa harus meregang nyawa oleh perbudakan rezim kolonialisme di saat jalur kereta dibuat. Saat tibanya kereta menumbuhkan harapan di tengah musim kering, ketika penumpang-penumpang di dalam kereta melemparkan berbagai macam logistik: air, daging, dan buah-buahan di Waiting for The (T)rain (Simon Panay, 2015)

Berlatar belakang jauh berbeda, tiga karakter dipertontonkan. Keterhubungannya dengan Paris diawali dengan kisah yang beragam, mulai dari keterpaksaan hingga harapan, kisah perbedaan budaya hingga kegamangan identitas. Tiga fragmen berbeda mengenai tiga impresi berbeda tentang Paris di En déplacement (Leandro Muniz Barreto, 2015). [NR Novika]

Untuk jadwal lebih lanjut dapat diakses di sini

Recent Posts
877c9d63515eff8dc684baf6a328e614111111111111111111