Docu Francais: Cinéma-Vérité sebagai Tawaran Kebenaran

Merci Patron!

Pada akhir 50-an hingga pertengahan 60-an, perkembangan film dokumenter mengalami perubahan besar. Dalam produksinya, sineas mulai menggunakan kamera yang lebih ringan dan jumlah kru yang sedikit, serta penolakan terhadap konsep naskah dan struktur tradisional. Mereka lebih spontan dalam merekam gambar, dan minimnya narasi dengan membiarkan obyeknya berbicara untuk mereka sendiri. Pendekatan ini dikenal dengan banyak istilah, seperti “candid” cinema, “uncontrolled” cinema, hingga Cinéma Vérité (di Prancis). Setengah abad kemudian, melalui program hasil kerjasama FFD dengan Institut Français d’Indonésie, Docu Francais tahun ini mencoba menghadirkan film-film dengan gaya sama yang diciptakan oleh Jean Rouch yang terinspirasi oleh teori Dziga Vertov tentang Kino-Pravda dan dipengaruhi oleh film-film buatan Robert Flaherty.

Di tengah-tengah era di mana informasi yang tersebar dan terserak di dalam gambar bergerak tak perlu lagi diverifikasi seperti sekarang, Docu Francais: French Cinema-Verite Today mencoba untuk mendeskontruksi pembacaan tentang hadirnya kebenaran dalam medium dokumenter meskipun dalam perkembangannya senantiasa mengalami perdebatan. Alih-alih menempatkan subyek dan konteks ‘sebagaimana mestinya’, melalui Cinema-Verite, pembuat film secara aktif memprovokasi dan mengeksplorasi gagasan tertentu dalam masyarakat, subyek ditempatkan secara aktif di dalam film, acapkali pula, pembuat film hadir secara fisik di dalam film. Bagi pembuat film dengan gaya ini, film dokumenter adalah sebuah proses konstruksi dan intervensi, dan proses-proses tersebut sengaja dihadirkan sebagai jaminan kebenaran dari pembuat film kepada penonton.

Empat film yang dihadirkan di program ini dengan masing-masing narasi baru lewat lapisan-lapisan yang tidak pernah diduga sebelumnya adalah alasan mengapa jenis ini penting untuk didiskusikan dan diwacanakan. L’Autre Cotee (Isabelle Bourgeil, 2016) merekam ironi yang hadir dalam pembangunan museum, Sementara Ronde-bosse (Laurence Michel, 2014) memperlihatkan bagaimana masyarakat Prancis memandang wanita berkepala botak. Film Conter Sa Vie (Heloise Deriaz, 2015) merekam bagaimana mitos-mitos tradisi direproduksi oleh para pendatang di negara tujuannya. Di sisi lain, keberanian untuk memprovokasi keluh-kesah yang terpendam dalam benak buruh-buruh Louis Vuitton dengan pembawaan yang jenaka dan usil tergambar pada film Merci Patron (Francois Ruffin, 2017) merupakan ekspresi paripurna dalam eksplorasi gaya bertutur Cinema-Verite Prancis saat ini.

Recent Posts
e21bec3698e9ea5215771452aaa79033;;;;;;;;;;;;;