Doc Music: Memanusiakan Musik lewat Perbincangan

Ruang Rupa Radio of Rock Tour Serial 2

Entah sejak kapan musik menjadi bukan hanya perihal audio, tapi juga visual. Abad 21 pun memiliki dinamikanya sendiri terkait meleburnya dua unsur ini dengan kemunculan nama-nama mulai dari The Beatles, dekade art-rock yang memberikan angin segar dalam industri musik melalui Pink Floyd, The Velvet Underground hingga Andy Warhol. Sampai pada titik di mana industrialisasi lewat tangan-tangan seperti MTV, mengalienasi musik itu sendiri dari manusia. Musik pun menjadi dangkal dan banal. Ia perlu mengeksplorasi ruang-ruang yang sebelumnya belum pernah dimasuki untuk dapat bergerak ke depan.

Discover: Dokumenter Musik dan Komunitas yang dihadirkan FFD tahun ini dalam program Doc Music, mencoba menjadikan film dokumenter sebagai medium untuk kembali membicarakan musik. Bagaimana Ruang Rupa Radio of Rock Tour Serial 2 (Henry Foundation, 2017) menyajikan bahwa musik tidak berhenti pada apa yang penonton saksikan di panggung. Lebih dari itu ia melibatkan interaksi resiprokal antara elemen-elemen di dalamnya.

Atau Metal in Egypt (Luca Tommasini & Ralph Kronauer, 2017) yang merekam realita di mana musik sebagai sebuah entitas ditabrakkan dengan nilai-nilai sosial kultural yang berlaku dalam satu masyarakat. Bagaimana musik tidak bisa dilepaskan dari selera, dan selera tidak pernah lahir begitu saja. Ia adalah konstruksi satu kekuatan, sebuah wahana pertarungan politik, kelas, dan utamanya, ekonomi. Maka peliyanan adalah sebuah keniscayaan, dalam bentuk stigma dan persekusi. Membawa musik pada level yang sama sekali berbeda; sebuah perlawanan.

Musik tentu tidak terbatas pada bentuknya sebagai sebuah pertunjukan. Hal ini diangkat dalam A Distant Echo (George Clark, 2016). 82 menit berisi soundscape dan gambar gurun pasir yang kontemplatif, film yang dihadirkan berusaha merekonstruksi  pertemuan arkeolog dan komunitas lokal tentang proses negosiasi kuburan kuno yang hilang di tengah gurun.

Hingga narasi tentang kelahiran skena Electronic Dance Music di Norwegia dalam Northern Disco Lights (Ben Davis, 2017). Musik yang lahir sebagai respon terhadap kegelisahan individu dan kolektif dalam sebuah ruang. Membawa perubahan pada level paling personal tiap individu dalam ruang tersebut.

Musik terlalu agung untuk hanya berkutat pada gaya rambut Alex Turner. Ia hadir begitu dekat dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dari sempitnya gang berbau muntahan anggur merah dalam himpitan replika-replika Menara Babel, hingga hamparan salju di bawah cahaya Aurora Borealis. Melalui perbincangan atas film-film dalam program ini, FFD mencoba untuk tidak mereduksi musik dengan tidak mengisolasinya dari segala unsur yang terlibat. Dari manusia, masyarakat, budaya, hingga situasi sosial politik ekonomi.

Recent Posts
1e13e2269a1a4e966d3253137561b6cd,,,,,,,,,,,,,,,,