Displacement: Otokritik atas Perpindahan Manusia

I Remember (Selim Yildiz, 2015)

I Remember (Selim Yildiz, 2015)

Pengasingan menjadi suatu keniscayaan. Henri Lefebvre, melalui bukunya The Production of Space (1992) memberi pemahaman atas sesuatu yang selama ini kita sebut sebagai ‘ruang’. Menarik kita untuk keluar dari kebiasaan atas memahami ruang sebagai realitas material yang independen atau swadiri (space it self). Menurutnya, ruang adalah produk sosial yang tidak otonom dan sangat dipengaruhi oleh relasi kuasa yang terjalin. Ia dikonstruksikan sedemikian rupa sebagai sarana pemikiran dan tindakan yang koheren sifatnya dengan upaya kontrol dalam relasi sosial.

Bertolak ke Indonesia, konflik sektarian masih terjadi berlarut-larut. Berbagai kasus perampasan dan penggusuran lahan berlangsung di berbagai pelosok nusantara, baik atas nama penataan kota maupun penyamunan sumber daya alam. Rekaman-rekaman pada berbagai macam narasi persoalan lingkungan dan kemanusiaan inilah yang coba untuk dieksplor secara lebih komprehensif oleh Displacement, sebagai pokok perspektif pada program utama FFD dalam melihat relasi kuasa yang terjalin atas perbandingan antara posisi akhir dan awal suatu objek. Lewat 17 Film lintas-benua yang akan diputarkan pada 7 – 10 Desember esok, FFD hendak mendedah berbagai proses perpindahan dalam ruang dan waktu hidup kita sebagai manusia. Dengan tetap kritis terhadap relasi kuasa yang terjalin, penonton diajak masuk dalam mengalami pemunculan ulang atas keberjarakan yang terjadi di dalam sebuah relasi sosial dan kaitannya dengan pergesekan kepentingan yang melingkupinya.

Dari lingkup personal, fakta bahwa untuk keluar dari siklus hidup yang buruk, Richard kecil harus mendapatkan akses pendidikan sebagai jalan keluar. Meski cara dalam menggapainya seakan terlihat tanpa ujung dalam Covered with The Blood of Jesus (Tommaso Cotronei, 2015).

Relasi Mbah Ledjar beserta warga kampung dan tempat tinggal mereka selepas separuh bagian dari Kampung Sosrokusuman dimiliki oleh pengusaha – untuk perluasan hotel dan pusat perbelanjaan di Sosrokusuman (Ninndi Raras, 2016).

Makin sempitnya ruang bagi suara-suara kecil dari sudut sisa-sisa gusuran – berdalih normalisasi atas hidup layak di Jakarta – yang coba dicari gaungnya di Jakarta Unfair (Sindy Febriyani & Dhuha Ramadhani, 2016).

Atau hubungan antara penduduk Harbin, China dengan sungai yang mereka kultuskan sebagai ibu lewat visualisasi spontan pun puitis di Demolition (J.P. Sniadecki, 2008). Sniadecki secara jeli melihat relasi manusia dan kotanya dari akibat-akibat atas pandangan bahwa kehidupan pekerja lebih menarik dari produk yang mereka hasilkan.

Kisahan bagaimana persoalan memastikan area tidur yang aman bisa kerap menjadi pertanyaan hidup dan mati di Delhi, India. Cities of Sleep (Shaunak Sen, 2015), dengan secuil potret akan realitas absurd bahwa profesi sebagai cukong sewa kasur memang nyata adanya. Ataupun kondisi ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa tidur adalah kebutuhan mutlak, telah mendesak para tunawisma kota dalam kondisi margin. Sen memberi penonton lebih dari sekadar eksposur tentang besarnya tekanan sosial dan politik, namun juga menawarkan cara pandang alternatif lewat eksplorasi filosofis dari konsep tidur secara umum.

Atau pada lingkup tatanan yang lebih luas dan global. Then Then Then (Daniel Schioler, 2015), dengan arsip rekaman visual lintas waktu dan spasial, menceritakan ketidakmampuan sebuah generasi untuk mempengaruhi perubahan sosial dalam memperjuangkan moralitas selepas gagalnya sebuah protes.

Film, dengan narasinya masing-masing telah memungkinkan kita untuk berimajinasi secara mendetail. Memberi bentuk terhadap sesuatu yang belum berwujud dalam realita atau alam pikir kita, meresepsi berbagai simbol dan gestur, hingga membayangkan sebuah perubahan setelah menontonnya. Sampai dengan gelarannya yang menginjak tahun ke-15-nya, FFD masih percaya pada fungsi dan potensi film sebagai wujud kontribusi bagi kemanusiaan melalui perilaku penontonnya setelah mengalami sebuah film. Terlebih lagi untuk film dokumenter – yang tidak terbatas sebagai perupaan ulang atas imitasi alam dan peristiwa dunia.

Tiap-tiap film dalam program ini dihadirkan lewat Displacement sebagai dinamika atas perjalanan tiap personal atau kelompok. Sehingga menjadi esensial ketika digunakan sebagai instrumen untuk memahami konteks retro-spasial di sekelilingnya. Sebuah representasi tentang berbagai perjalanan melalui sudut pandang yang memungkinkan kita untuk merefleksikan ulang atas manusia dan konteks yang menyelimutinya. [Dwiki Aprinaldi]

Untuk jadwal lebih lanjut dapat diakses di sini

Recent Posts
31a8e582be2298957ec4be1214800befcc