Dear Memory, Kepingan Masa Lampau: Telaah Ingatan dan Realita Kebenaran

Le Rideau de Sucre

Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan berbaur menjadi satu kesatuan mengenai konsep waktu, kejadian yang mengiringinya membentuk ingatan-ingatan yang tidak lepas dari manusia. Otak manusia pada dasarnya memiliki lobus-lobus berbeda untuk menyimpan ingatan akan kejadian yang dialami, yang menyebabkan memori bisa kembali dipanggil recall, muncul begitu saja secara disengaja atau tidak.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Ohio State University memaparkan sebuah hasil di mana terdapat hubungan yang dekat antara ingatan dan konsep ruang dan waktu sebuah kejadian. Otak menyimpan informasi akurat mengenai dimana dan kapan kenangan spesifik terjadi. Semakin jauh memori itu terpisah dalam ruang dan waktu semakin jauh terpisah gambaran memori tersebut dalam hippocamus.

Ingatan menjadi sebuah hal yang menarik untuk dibahas dalam konteks dokumenter. Film dokumenter dan keinginan merekam realita yang terkorelasi dengan kebenaran, menjadi medium yang menarik dalam contoh ini. Ingatan tidak bisa tidak benar: kita ingat apa yang kita ingat. Menelaah ingatan dengan tujuan menyampaikannya kepada khalayak, meskipun begitu, merupakan urusan yang berbeda. Dalam gelarannya yang ke 16 ini, FFD menghadirkan Dear Memory: Trinket of the Past untuk menyusun kembali ingatan-ingatan yang tersimpan rapi dalam otak, mengungkap catatan akan rumah dan keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu, serta mimpi dan ideologi.

Dalam kompilasi panjang, Odessa… Odessa! (Michale Boganim, 2004) membawa kita pada pemandangan dalam mimpi kota tua Odessa, di mana nostalgia menghembuskan kehidupan dan angan tentang sebuah bangsa berlanjut, bahkan di tanah jauh.

Selanjutnya ada Le Rideau de sucre (Camila Guzmán Urzúa, 2016) menyorot Kuba di bawah rezim komunis melalui mata kanak-kanak individu-individu yang kini telah tumbuh dewasa, ketika utopia yang memabukkan berubah menjadi realita yang pahit, dan kekecewaan melingkupi bangsa sejalan dengan kamera yang menangkap reruntuhan kediaman para pionirnya.

Every Wall is A Door (Elitza Gueorguieva, 2017) menghadirkan sebuah kontemplasi ideologi masa lampau diletakkan berdampingan dengan industri media yang glamor dan gemerlap, dibingkai lewat kekaguman seorang anak pada ibunya dan dunia kotak magis yang ia tinggali.

Dalam koleksi pendek, Seven Suitcases (Nora Lakos, 2015) membawa kita pada perjalanan bersama tujuh anak-anak migran di Budapest dan cerita mereka tentang rumah dan hal-hal hilang yang dirindukan.

Chickpeas with Sugar (Antonio Aguilar Garcia, 2015) mempertemukan antara kisah konflik dan perjalanan panjang dari Málaga ke Almería yang membunuh ribuan orang di tahun 1937 dengan pengalaman pribadi yang intim dan gambaran kekuatan seorang ibu.

Sementara itu, Chapter 2 – the Field Trip (Mayumi Nakazaki, 2011) puas dengan rangkaian foto dan ketiadaan narasi. Kolase gambar dan suara yang statis membawa penonton ke masa lalu yang diam.

Terakhir, Souvenir de bord de mer (Alice Marsal, 2014) menampilkan seorang perempuan mencoba menemukan dan merekam ulang ingatannya melalui foto-foto yang dijual di pasar suvenir pinggir pantai sekaligus mempertanyakan arti ingatan dan signifikansinya dalam kehidupan manusia.

Pemutaran akan digelar pada tanggal 9-15 Desember 2017 di venue IFI-LIP Sagan, Yogyakarta. Agenda pemutaran secara lengkap dapat dilihat jadwal.

Recent Posts
689bd4b8e89fd7c5e9e086d2bd2b5b7eBBBBBBBBBBBBBBBB