Asian Docs: Rekoleksi Memori dalam Mengalami Asia

Singapore Minstrel (Ng Xi Jie, 2015)

Singapore Minstrel (Ng Xi Jie, 2015)

Asian Docs kini kembali memeriahkan Festival Film Dokumenter pada tanggal 7 hingga 10 Desember 2016 mendatang. Pemutaran film yang akan dilaksanakan di IFI-LIP Yogyakarta, ini merupakan bentuk kolaborasi FFD bersama dengan Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan telah memasuki tahun kedua penyelenggarannya. Gagasan awal hadirnya program ini telah melalui berbagai macam upaya untuk meningkatkan daya minat penonton akan film-film Asia – lebih dari sekadar sebagai suatu bentuk wilayah geografis semata. Gagasan mengenai Asia yang diusung muncul bahwa tiap negara di Asia memiliki dan membawa suara, situasi, permasalahan, dan estetikanya masing-masing. Perwujudan cara berkehidupan Asia dengan segenap elemennya; manusia, masyarakat, budaya, dan situasi politik ekonomi yang beragam – yang tentunya tak bisa diukur dengan parameter yang sama antara satu negara Asia dengan negara Asia lainnya.

Pada tahun 2016 ini, program Asian Docs dihadirkan dengan tujuan untuk menggugah kembali ingatan-ingatan kolektif akan Asia bagi para peminatnya baik dalam wilayah personal, kelompok masyarakat maupun negara. Film-film yang akan diputar nantinya mengandung narasi tentang situasi, permasalahan, dan estetika yang merupakan perwujudan dari cara berkehidupan di Asia seperti: Singapura, Korea, Thailand, Cina, India, hingga beberapa negara Asia lainnya. Tujuan tersebut selaras dengan tema besar yang diangkat oleh Festival Film Dokumenter tahun ini, dimana Displacement  hadir sebagai representasi dari beberapa elemen; sebuah lompatan rekam peristiwa dari waktu ke waktu dimana sejarah dan memori menjadi substansial untuk kembali dihadirkan, problematika HAM yang muncul dari kebijakan politik lokal hingga globalisasi yang berimbas pada cerita personal maupun konteks sebuah kota dalam kehidupan sosialnya, serta bagaimana budaya berperan sebagai media kontrol sekaligus media perlawanan terhadap kebijakan dalam sebuah sistem.

Film yang akan disuguhkan terdiri dari 2 film panjang dan 2 film pendek. Film-film panjang yang dapat dinikmati yaitu; Geu-reom-e-do-Bul-gu-ha-go / Still and All (Youngjo Kim, 2015, Korea Selatan) mengisahkan tentang dorongan Pulau Yeongdeo – sebagai pusat perubahan dan revitalisasi – untuk pindah atas rencana ‘pembangunan kembali’ oleh pemerintah setempat, Singapore Minstrel (Ng Xi Jie, 2015, Singapura) yang mengalir secara kaleidoscopically tentang Roy, dan wacana akan budaya serta permainan ekspresi dalam pembacaan atas ruang-ruang publik di Singapura lewat bingkai seni di jalanan Singapura, Xinyiwood (Shih-Chieh Lin, 2015, USA/Taiwan) merupakan dokumenter yang merespon ulang puisi di abad ke-8 lewat visualisasi gabungan dari arsip lawas dan baru, dan Shirno Bahu / Thin Arms (Sandeep Ray, 2013, India) tentang rasa lelah, dan obsesi seorang wanita tua yang sedang menjalani perawatan medis rumah sakit dengan pohon mangga di luar jendela kamar tidurnya.

Bersama dengan beberapa film panjang dan film pendek yang akan disuguhkan, kita diajak untuk berkontemplasi sekaligus menggugah rasa ingin tahu serta empati terhadap sesama manusia. Terlebih terhadap beragam polemik kenegaraan yang tengah terjadi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Melalui program ini, harapan yang muncul sebagai euforia berkehidupan masyarakat Asia dapat digali lagi serta turut terlibat lebih jauh dalam proses mengenal dan menjadi Asia seutuhnya, di mana tetap menjaga orisinalitas identitas dan turut melestarikan budaya serta peka terhadap fenomena-fenomena yang jarang terungkap, terlebih di Asia. [Justicia Handykaputri]

Untuk jadwal lebih lanjut dapat diakses di sini

Recent Posts
fea012c67ce8dedef5ded7997d8862bd=======