Asian Doc: Kehilangan dan Temuan, Pencarian akan Asia

I Want To Go Home

Mengangkat tema Kehilangan dan Temuan, Asian Doc kembali hadir Festival Film Dokumenter. Memasuki tahun ketiganya,  program yang digagas bersama Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ini akan mencoba menggali bagaimana kehilangan dan temuan adalah dua realita dalam kehidupan kita sehari-hari. Layaknya siklus kematian-kelahiran, ia adalah sebuah keniscayaan yang hadir dalam setiap dimensi kehidupan manusia. Melalui pemutaran film pada 9-15 Desember mendatang, penonton akan disajikan bagaimana beragamnya bentuk kehilangan mengaburkan batas-batas indrawi. Serta rumitnya konteks yang terjadi di balik realita tiap film.

Dari Laleh Complex (Komeil Soheili, 2017) yang merekam kisah keterisolasian sekelompok anak di sebuah desa terpencil di Iran. Narasi keterisolasian yang begitu pelik membuatnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Iran sebagai sebuah negara ketiga yang lahir dari pertarungan dua kekuatan adikuasa. Menghasilkan sebuah peradaban yang tidak memberikan ruang bagi individu di dalamnya untuk bermimpi.

Atau bagaimana kehilangan sebagai sebuah peristiwa yang membuat seseorang tenggelam di dalamnya. Melalui Kisah pencarian Yasuo Takamatsu akan istrinya yang hilang pada gempa dan tsunami yang melanda pesisir timur jepang 2011 lalu I Want To Go Home (Wesley Leon Aroozoo, 2017), merekam bagaimana kehilangan yang ia alami adalah satu titik dalam konstelasi kejadian yang tidak bisa diisolasi antara satu dan lainnya. Kehilangan dalam kaca mata Takamatsu bukan lagi perkara fisik. Ia lahir dari panjangnya historisitas seorang manusia yang begitu kaya dengan dinamika, sehingga akan kembali pada fase temuan dan mengulangi siklus serupa.

Ragam dinamika itu pula yang disajikan Tetsu Kono’s Crazy Routine (Sébastien Simon & Forest Ian Etsler, 2016). Mengikuti karakter Tetsu Kono, seorang laki-laki paruh baya yang mengaburkan siklus kehilangan dan temuan. Lewat kegemarannya menghadiri festival film yang memakan tidak sedikit dari waktu hidupnya, membuat obsesi tidak masuk akal Tetsu Kono adalah sesuatu yang bersifat eksistensial. Mengaburkan batas-batas antara apa itu kehilangan dan temuan ketika keduanya dihidupi dalam saat yang bersamaan oleh sosok Tetsu Kono.

Atau 69 menit kisah Rit, seorang pengatur pergerakan proyektor di sebuah gedung bioskop di Thailand, bergelut dengan fakta bahwa tempatnya mengadu nasib tengah sekarat dalam Phantom of Illumination (Wattanapume Laisuwanchai, 2017). Bagaimana ke-Asia-an dilihat sebagai seperangkat nilai yang tidak bisa dilepaskan dari kekayaan mistisisme, hingga realita kehidupan negara dunia ketiga. Menghadirkan kehilangan dan temuan dalam harapan seorang Rit yang dihadapkan pada fakta bahwa kapitalisme adalah sebuah keniscayaan.

Himpitan gerak peradaban menyisakan sempitnya ruang individu di dalamnya untuk berbicara. Membuat kita luput terhadap kegelisahan yang terjadi, sehingga terjebak pada narasi ke-Asia-an yang itu-itu saja. Melalui tiap film di program ini, FFD mencoba memberi ruang untuk melihat Asia secara utuh; sebuah ruang spasial dan sosial dengan segala unsur di dalamnya yang saling berkelindan.

Recent Posts
2524d22a5dbd2b6ea4d1ff00d349061e#########################