Retrospektif Mark Rappaport: Menelusuri Jahitan-Jahitan.

Mark Rappaport

Festival Film Dokumenter kembali menghelat  program spektrum di tahun 2017. Program ini merupakan bentuk konsistensi dalam usaha mengkaji ragam dokumenter dunia. Beragam hasil kajian dan kategorisasi dokumenter telah diperlihatkan FFD sejak awal kemunculannya di tahun 2002. Tentunya, di perayaan ke-16 ini, FFD kembali menyuguhkan temuan ragam dokumenter melalui kategori film yang memuat perspektif personal pembuatnya dalam memandang sesuatu. Kali ini film-film garapan Mark Rappaport menjadi sorotan FFD dalam program spektrum bertajuk Retrospektif Mark Rappaport.  Melalui program Spektrum ini, FFD berusaha membangun keterlibatan penonton dalam proses menelaah, dan merenungkan baik wacana, kesadaran menerima impresi serta narasi yang dari film Rappaport yang berisi potong-potongan film populer.

Film jenis ini, dinamai sutradara asal Amerika tersebut, sebagai Esai Video. Esai Video adalah bentuk film yang meletakkan beragam klip untuk membangun narasi berupa pendapat pribadinya atas peristiwa tertentu. Secara teknis, esai video lekat dengan film dokumentasi musik yang memperlihatkan keriuhan penonton, perjalanan pemain musik menuju tempat konser dan lain sebagainya. Walaupun memiliki kecenderungan teknis yang seragam dengan esai video pada umumnya, film miliki Mark Rappaport ini telah menawarkan wacana yang menggugah sikap kritis penonton pada sebuah peristiwa.

Film-film atau esai-esai video Mark Rappaport, berisi soal pendapatnya pada berbagai hal. Seperti tafsirnya pada meja rias perempuan yang diperlihatkan melalui film The Vanity Tables of Douglas Kirk (Mark Rappaport, 2014), atau penjelajahannya pada beragam konstruksi filmis baik Hollywood dan Eropa yang membangun citra Anita Ekberg sebagai simbol seks dunia dalam film Becoming Anita Ekberg (Mark Rappaport, 2014), atau dua film Mark Rappaport lainnya berjudul Sergei/Sir Gay (Mark Rappaport, 2016) dan The Circle Closes (Mark Rappaport, 2015). Keempat film ini akan diputar pada tanggal 14 Desember 2017 di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta, pukul 13.00.

Keempat film Mark Rappaport, menunjukkan kejeliannya menemukan kedalaman pada elemen filmis ( gambar, suara dan musik) sebagai alat yang mewacanakan sesuatu. Hal ini, kemudian diperjelas lewat voice over yang membangun strutur naratif film, sekaligus membatasi tafsir penonton. Cerita personal dalam beragam persona ini kemudian membangunkan pertanyaan mendasar soal nilai dokumenter. Di manakah nilai dokumenter, jika film-film milik Mark Rappaport adalah narasi yang hadir dalam bentuk personifikasi?

Recent Posts
504b0dfdb3434862fc036672f783acd6{{{{{{{{{{{{{{