Docu Francais

French Cinema-Verite Today

Geger itu bermula ketika sebuah video cuplikan pidato kampanye calon kepala daerah tersebar di media sosial beberapa bulan lalu. Kendati kemudian diketahui bahwa ada bagian di dalam video yang dihilangkan, dalam kata lain dilepaskan dari konteksnya, serta keterhadirannya dibumbui narasi yang provokatif, massa tetap tak peduli, ia adalah calon kepala daerah yang wajib dibui. Hari ini dapat kita saksikan bagaimana informasi yang tersebar dan terserak di dalam gambar bergerak tak perlu lagi diverifikasi. Adagium seeing is believing di dalam gambar bergerak membuat khalayak merasa video tersebut sudah merepresentasikan kebenaran, meskipun tanpa disertai pembacaan lebih lanjut.

Hal yang sama dialami pula oleh medium dokumenter. Informasi yang faktual dan kebenaran dapat dipertanggungjawabkan, adalah ekspektasi yang muncul ketika menonton film dokumenter. Namun demikian, bagaimana kebenaran dihadirkan senantiasa mengalami perdebatan dalam perkembangannya. Mula-mula, gaya direct cinema diklaim sebagai wujud yang paling ideal karena menyembunyikan peran pembuat film seminim mungkin. Pendapat berbeda diajukan oleh Jean Rouch pada tahun 1960-an. Ditandai dengan kehadiran gaya cinema-verite atau “cinema of truth” yang diinisiasi di Prancis melalui film Chronique d’un Ete. Gaya ini memandang bahwa keberadaan kamera secara niscaya mengintervensi laku seorang subyek. Alih-alih menempatkan subyek dan konteks ‘sebagaimana mestinya’, melalui cinema-verite, pembuat film secara aktif memprovokasi dan mengeksplorasi gagasan tertentu dalam masyarakat, subyek ditempatkan secara aktif di dalam film, acapkali pula, pembuat film hadir secara fisik di dalam film. Bagi pembuat film dengan gaya ini, film dokumenter adalah sebuah proses konstruksi dan intervensi, dan proses-proses tersebut sengaja dihadirkan sebagai jaminan kebenaran dari pembuat film kepada penonton.

Di dalam program Docu Francais, FFD 2017 menyajikan empat film Prancis yang menggunakan metode bertutur cinema-verite. Bagaimana proses pembuatan film yang seringkali menghasilkan lapisan-lapisan narasi baru yang tidak pernah diduga sebelumnya merupakan alasan mengapa jenis ini penting untuk didiskusikan dan diwacanakan. Film L’Autre Cotee (Isabelle Bourgeil, 2016) merekam ironi yang hadir dalam pembangunan museum, Sementara Ronde-bosse (Laurence Michel, 2014) memperlihatkan bagaimana masyarakat Prancis memandang wanita berkepala botak. Film Conter Sa Vie (Heloise Deriaz, 2015) merekam bagaimana mitos-mitos tradisi direproduksi oleh para pendatang di negara tujuannya. Di sisi lain, keberanian untuk memprovokasi keluh-kesah yang terpendam dalam benak buruh-buruh Louis Vuitton dengan pembawaan yang jenaka dan usil tergambar pada film Merci Patron (Francois Ruffin, 2017) merupakan ekspresi paripurna dalam eksplorasi gaya bertutur cinema verite Prancis saat ini.

 

Dikurasi oleh Aditya Rizki Pratama

  • FFD 2017 | Conter sa vie
    Conter sa vie
  • FFD 2017 | L'autre Côté
    L'autre Côté
  • FFD 2017 | Merci Patron!
    Merci Patron!
  • FFD 2017 | Ronde-bosse
    Ronde-bosse

*Program ini merupakan program kerjasama Festival Film Dokumenter dengan Institut Français d’Indonésie.

aae1dd5186f57546fcc2e70d435d96e5666