DOC MUSIC

Discover: Dokumenter Musik & Komunitas

“Video Killed the Radio Star,” ujar The Buggles berulang-ulang dalam lagunya 20 tahun silam. Sebuah curahan hati yang sah saja hadir mengingat mewabahnya kanal MTV dan video klip pada masa itu. Meskipun radio tak benar-benar mati, generasi yang lahir pada tahun 80-90an serentak menjelajah dan mengidentifikasi bintang pop idolanya melalui video klip, sebuah medium gambar bergerak yang pada zaman itu menjadi paket promo yang wajib dimiliki oleh band dan grup musik.

Saat ini aplikasi di dalam telepon genggam merupakan perangkat populer yang membuat kita dapat mengakses musik. Lagu dan repertoire tidak lagi sulit divisualisasikan. Apabila sebuah band hendak mendekatkan diri dengan audiensnya, mereka tinggal mendaftarkan musiknya ke aplikasi tersebut. Alhasil, perlakuan mengenai musik kembali berubah. “Tidak masalah apabila kamu sedang berpergian, musikmu akan selalu menyertaimu,” ungkap sebuah iklan aplikasi musik yang menyiratkan bahwa musik senantiasa dapat didengarkan sembari melakukan kegiatan apapun. Tak perlu lagi video klip, begitu juga penyiar radio.

Pada tahun 2017 ini, FFD melalui Discover: Dokumenter Musik dan Komunitas mencoba untuk melawat kembali perbincangan musik melalui medium gambar bergerak, khususnya dokumenter. Dokumenter musik sendiri bukanlah hal baru, sudah tak terhitung berapa film yang mengambil fokus band dan musisinya. Namun sesuai semangat Discover, bagaimana subjek-subjek di dalam film Metal in Egypt (Luca Tomamasini & Ralph Kronauer, 2017) dan Northern Disco Light (Ben Davis, 2016) membentuk komunitas alternatif untuk mengeksplorasi genre musik yang tergolong baru dan asing di negaranya menjadi hal yang menarik untuk didiskusikan. Hal senada juga tampak melalui film Ruang Rupa Radio of Rock Tour Serial 2 (Henry Foundation, 2017) yang menggambarkan bagaimana perjalanan tur dari kota ke kota mampu mempererat sekelompok band yang terlibat sehingga membentuk suatu komunitas baru yang temporer. Di sisi lain, pendekatan berbeda dinarasikan oleh George Clark dalam  A Distant Echo (2016). Melalui soundscape dan gambar gurun pasir yang kontemplatif, film yang dihadirkan berusaha merekonstruksi  pertemuan arkeolog dan komunitas lokal tentang proses negosiasi kuburan kuno yang hilang di tengah gurun.

 

Dikurasi oleh Alia Damaihati & Aditya Rizki Pratama

  • FFD 2017 | A Distant Echo
    A Distant Echo
  • FFD 2017 | Metal in Egypt
    Metal in Egypt
  • FFD 2017 | Northern Disco Lights
    Northern Disco Lights
  • Ruang Rupa Radio of Rock Tour Serial 2
    Ruang Rupa Radio of Rock Tour Serial 2
d4f47f295f9470581432d44e068cbc6fIIIIIIII