Diskusi

Dokumenter di Era Post-Truth

POST-TRUTH

Post-truth yang dipilih sebagai tema festival akan dirangkum dalam program diskusi. Diskusi ini memperbincangkan bagaimana perspektif festival kali ini berpengaruh terhadap pola produksi film dokumenter. Film dokumenter dalam diskusi ini dipandang sebagai medium pertarungan kebenaran. Film dokumenter mampu menjadi medium yang tepat untuk menyampaikan realita perspektif yang subjektif. Ruang lingkup diskusi berada seputar film dokumenter sebagai sebuah medium kontestasi.

Beberapa film membingkai diskusi ini merupakan film yang dipilih dengan cara-cara tertentu untuk menyampaikan perspektif subjektif pembuatnya. Pantja-Sila: Cita-cita dan Realita (Tino Saroengallo & Tyo Pakusadewo, 2016) adalah sebuah film semi dokumenter yang merekaadegankan pidato Soekarno yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila. The Red Barred (Agus Darmawan & Sakti Parantean, 2017) adalah dokumenter tentang orientasi pelatihan militer yang dilakukan Siwan, seorang anggota Pemuda Pancasila, organisasi sipil yang dibentuk pada masa orde baru dan eksis hingga kini. AWAL: Nasib Manusia (Gilang B. Santoso, 2017) merupakan potret seorang siswa yang dikirim ke Rusia pada masa pemerintahan Soekarno untuk menempuh pendidikan film. Namun, ia tidak bisa kembali lagi ke Indonesia pasca 65’ karena stigma dan label komunis yang ditempelkan padanya.

Diskusi dibatasi pada pembahasan dokumenter dalam konteks Indonesia. Film-film tersebut dipilih karena mewakili konstruksi lini masa politik Indonesia dari Orde Lama, 65’, hingga Orde Baru. Ketiga film dianggap mampu membawa diskusi ke persoalan perspektif yang digunakan para pembuat filmnya. Persoalan pemilihan subjek, subjektifitas, hingga keterwakilan di film-film tersebut akan menjadi bahasan dalam diskusi. Lewat film-film tersebut, konstruksi kebenaran dalam medium ini akan dibongkar. Bagaimana mata kamera menangkap realitas? Siapa yang diwakili lewat tampilan di dalam layar? Ketika dokumenter dipercaya sebagai realita, lalu di mana otoritas subjek dalam berpendapat? Bukankah dokumenter melibatkan serangkaian kerja teknis seperti editing (pemilahan gambar) yang manipulatif? Lalu, pada akhirnya dokumenter menampilkan kebenaran menurut siapa? Bukankah ia bersifat sama halnya dengan ujaran Trump semasa kampanye yang propagandis tetapi punya kekuatan yang besar untuk menghimpun massa?

Turunan pertanyaan di atas akan menjadi bahasan yang menarik dalam membicarakan bagaimana posisi film dokumenter dalam era post-truth. Harapannya, diskusi tidak hanya berpusar pada perbincangan terkait gejala post-truth, tetapi juga menemukan relasinya dengan media penting dalam festival ini, yakni film dokumenter.

Pembicara:

Roy Thaniago – Remotivi
Agus Darmawan – Pembuat Film Dokumenter The Red Barred
Gilang B. Santoso – Pembuat Film Dokumenter AWAL: Nasib Manusia

Moderator:
Irfan R. Darajat – Peneliti LARAS

Jadwal
Selasa, 12 Desember 2017 | Auditorium IFI-LIP, Yogyakarta | 15.00

6695f33527464d7789e92cca5be7f7e4cc