Dear Memory: Kepingan Masa Lampau

Waktu merupakan konsep yang aneh. Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan mengabur, pertemuan dan kejadian memenuhi kepala dengan informasi untuk disimpan, untuk diingat kembali. Manusia mengingat banyak hal, tetapi hanya sebagian dari ingatan itu yang lekat. Dalam suatu kejadian, seseorang mungkin melihat penghapus bermotif bunga dalam sebuah kotak pensil dan bertanya, “Beli di mana, bagus banget?” dan ingatan akan sebuah hari yang dipenuhi kebosanan dan keinginan atas sesuatu yang baru dan sebuah kesenangan kecil hadir dalam jawaban. Seseorang yang sama kemudian menangkap dua patahan krayon berwarna biru di samping penghapus dan berkomentar, “Apaan sih tuh, aneh banget disimpen?” dan tidak satu, melainkan serangkaian ingatan bermunculan: tentang sebuah hadiah masa yang lampau, dekat tersimpan, berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain, meninggalkan tanda melalui coretan di sudut-sudut dinding, satu persatu hilang, suatu hari ditemukan dan apa yang tersisa memanggil potongan masa kecil akan laut yang biru. “Kuda lumping jadi orang teh usil pisan!”

Seperti halnya waktu yang aneh, ingatan sebagai sebuah konsep yang tak terpisahkan dari waktu, seringkali ganjil. Kejadian-kejadian dan hal-hal istimewa hampir secara otomatis mendapat tempat dalam ingatan. Namun, ingatan juga dapat melekat pada kejadian-kejadian dan hal-hal yang terkesan remeh dan sepele. Bobot dan nilai dari sebuah kejadian dan objek secara personal turut andil, sebuah kemungkinan yang menarik jika melihat begitu banyaknya faktor yang memberi bobot dan nilai tersendiri, acap tak terduga dalam kesederhanaannya. Film dokumenter, dan keinginan merekam realita yang terkorelasi dengan kebenaran, menjadi medium yang menarik dalam contoh ini. Ingatan tidak bisa tidak benar: kita ingat apa yang kita ingat. Menelaah ingatan dengan tujuan menyampaikannya kepada khalayak, meskipun begitu, merupakan urusan yang berbeda. Dalam kompilasi ingatan melalui medium film dokumenter ini, konteks dan isu terungkap sealur dengan ingatan yang tersibak, dengan catatan akan rumah dan keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu, catatan akan mimpi  dan ideologi.

Dalam kompilasi panjang, Odessa… Odessa! (Michale Boganim, 2004) membawa kita pada pemandangan dalam mimpi kota tua Odessa, di mana nostalgia menghembuskan kehidupan, dan angan tentang sebuah bangsa berlanjut, bahkan di tanah jauh. Le Rideau de sucre (Camila Guzmán Urzúa, 2006) menyorot Kuba di bawah rezim komunis melalui mata kanak-kanak individu-individu yang kini telah tumbuh dewasa, ketika utopia yang memabukkan berubah menjadi realita yang pahit, dan kekecewaan melingkupi bangsa sejalan dengan kamera yang menangkap reruntuhan kediaman para pionirnya. Dalam Every Wall is A Door (Elitza Gueorguieva, 2017), sebuah kontemplasi ideologi masa lampau diletakkan berdampingan dengan industri media yang glamor dan gemerlap, dibingkai lewat kekaguman seorang anak pada ibunya dan dunia kotak magis yang ia tinggali.

Dalam koleksi pendek, Seven Suitcases (Nora Lakos, 2015) membawa kita pada perjalanan bersama tujuh anak-anak migran di Budapest dan cerita mereka tentang rumah dan hal-hal yang hilang serta dirindukan. Chickpeas with Sugar (Antonio Aguilar Garcia, 2015) mempertemukan kisah konflik dan perjalanan panjang dari Málaga ke Almería yang membunuh ribuan orang di tahun 1937, dengan pengalaman pribadi yang intim dan gambaran kekuatan seorang ibu. Chapter 2 – the Field Trip (Mayumi Nakazaki, 2011), sementara itu, puas dengan rangkaian foto dan ketiadaan narasi; kolase gambar dan suara yang statis membawa penonton ke masa lalu yang diam. Di Souvenir de bord de mer (Alice Marsal, 2014), seorang perempuan mencoba menemukan dan mereka ulang ingatannya melalui foto-foto yang dijual di pasar suvenir pinggir pantai, sekaligus mempertanyakan arti ingatan dan signifikansinya dalam kehidupan manusia.

 

Dikurasi oleh Ukky Satya Nugrahani

  • FFD 2017 | Chapter 2 - the Field Trip
    Chapter 2 - the Field Trip
  • FFD 2017 | Garbanzos con Azúcar | Chickpeas with Sugar
    Chickpeas with Sugar
  • FFD 2017 | Chaque mur est une porte | Every Wall is A Door
    Every Wall is A Door
  • FFD 2017 | Odessa... Odessa!
    Odessa... Odessa!
  • FFD 2017 | Souvenir de bord de mer | Seaside Memory
    Seaside Memory
  • FFD 2017 | Seven Suitcases
    Seven Suitcases
  • FFD 2017 | Le Rideau de sucre | The Sugar Curtain
    The Sugar Curtain
b637ed0cf0e0bcd2d89ac0a39fb6f511pppppppppppppppp