SPEKTRUM
Dear Memory: Kebersituasian

Mendistingsikan ‘ingatan’ dan ‘memori’ sebagai suatu andaian adalah semacam membayangkan ingatan secara presisi terhadap masa lalu dan ingatan secara spasial terhadap masa lalu. ‘Ingatan’ bisa dianggap sebagai hal yang objektif, berusaha menghadirkan masa lalu secara persis, sebagaimana kepercayaan bahwa realitas tersebut objektif sehingga bisa dihadirkan ulang secara presisi dalam kekinian. Sementara memori adalah ingatan yang di dalamnya sudah memuat kebersituasian (facticity)/kontingensi sehingga kehadiran masa lalu juga selalu mengalami spasialitas. Postulat ini mengandaikan bahwa ingatan merupakan semacam sejarah objektif atau masa lalu yang selalu bisa dihadirkan secara sama berulang-ulang karena kepercayaan persisinya. Seperti halnya kita membayangkan sinema tentang sejarah yang hasratnya adalah mengkonstruksi ulang masa lalu secara persis sebagaimana ‘kenyataan yang sebenarnya yang terjadi di masa lalu’. Sementara ‘memori’, lebih merupakan masa lalu yang dihadirkan, memuat momen, trauma, tindak tutur (speech act), dan seterusnya dengan segala spasialitasnya. Dalam memori, kehadiran masa lalu semacam tindak performatif yang selalu terbuka terhadap momen kekiniaan dan kebersituasiannya. ‘Ingatan’ mungkin menjadi semacam penunggalan terhadap sejarah, sebagaimana yang dikritik oleh Walter Benjamin. Sementara ‘memori’ bisa diandaikan dengan apa yang dibayangkan oleh Hans Gadamer sebagai sebuah sejarah yang selalu terbuka di mana ungkapan terhadap sejarah selalu dalam situasi sejarah pula.

‘Memori-memori’ tersebut membentuk atau bisa juga terbentuk dalam situasi darurat (emergency) dari penunggalan sejarah yang represif terhadap keragaman spasialitas pengalaman para individu. Siasat melawan penunggalan sejarah tersebut bisa melahirkan seperangkat tindakan atau objek yang bersifat nonnaratif ataupun tak terbahasakan, entah sebagai bentuk dari sebuah interupsi maupun penolakan dari keseragaman dan penunggalan sejarah. Siasat-siasat tersebut mengandaikan pula bahwa penunggalan sejarah sebagai rezim bahasa, di mana usaha keluar dari rezim tersebut bisa dimungkinkan melalui tindak performatif. Siasat melawan penunggalan sejarah sebenarnya juga bisa lahir dari tradisi naratif melalui penggambaran hal-hal yang supranatural dan mistis untuk mengacaukan batas-batas antara masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Periode-periode memori ini memungkinkan sinema ikut memiliki andil besar dalam mengartikulasikan ketidakadilan sejarah atau bahkan ketidakadilan di masa lalu, di mana sains sosial sebagai hasrat sejarah objektif justru memiliki peran besar dari rezim penunggalan sejarah (rezim kebenaran) tersebut.

Memori sebagai sesuatu yang nonrepresentasional itu cukup efektif hadir dalam The Origin of Fear (Bayu Prihantoro Filemon, 2016) melalui performativitas suara-suara (sound) yang efeknya bisa jauh lebih traumatik masuk ke dalam tubuh. Sebab, bisa jadi suara adalah image yang tidak perlu ditegaskan atau ditunggalkan dalam unsur visualitasnya. Sementara pada Memoria (Kamila Andini, 2016), digunakan memori sebagai image yang memungkinan kesaksian-kesaksian dari situasi subaltern. Ketika  bahasa atau ‘yang terkatakan’ bisa jadi sudah tidak memadai, maka image menjadi momen kehadiran atas pengalaman masa lalu itu sendiri. Terakhir, memori dalam The Troubled Troubadour (Forest Ian Etsler & Sébastien Simon, 2016) bukan lagi perihal kontinuitas masa lalu yang bisa dikendalikan dalam objektivitas. Memori adalah momen peristiwa (event) dan personal, termasuk juga di dalamnya adalah momen spiritual. Ia tidak bisa diulang-ulang (metodologi), tetapi ia dimungkinkan untuk distimuli melalui suara (musik).

Dikurasi bersama | Co-curated oleh Akbar Yumni (Jurnal Footage)

 

**Pemutaran diikuti oleh presentasi dari sutradara dengan kurator, Akbar Yumni sebagai penanggap

  • FFD 2017 | Memoria
    Memoria
  • FFD 2017 | The Origin of Fear
    The Origin of Fear
  • FFD 2017 | The Troubled Troubadour
    The Troubled Troubadour
[email protected]@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@