Asian Doc

KEHILANGAN DAN TEMUAN

Syahdan, manusia hidup dalam lingkaran, sebuah piringan yang berputar. Untuk setiap kematian terdapat kelahiran, untuk setiap kesedihan terdapat kebahagiaan, seperti bumi yang bulat dan musim beralih, untuk setiap awal terdapat akhir, untuk setiap kehilangan terdapat temuan.

Kehilangan dan temuan adalah dua realita kehidupan sehari-hari. Kita mengalami kehilangan hampir setiap saat, kadang sesuatu yang kecil dan tidak penting, yang hanya muncul sesekali dalam ingatan, mungkin sekilas saja, ditemani tawa; atau bisa saja sesuatu yang dekat dan kita sayangi, hingga kehidupan kita berpusar pada satu peristiwa kehilangan tersebut. Pun, mungkin saja kita yang hilang—apapun faktanya, tidak ada perbandingan untuk masing-masing kehilangan, masing-masing terkorelasi pada tiap temuan dalam signifikansi mereka.

Kompilasi kecil ini menghadirkan dua realita tersebut lewat topik yang beragam: dari ironi ketidakmungkinan mimpi kanak-kanak dalam Mojtama-e Laleh (Komeil Soheili, 2017), hingga peristiwa kehilangan seorang lelaki di suatu peristiwa yang tidak dapat dia kendalikan pada I Want to Go Home (Wesley Leon Aroozoo, 2017); dari temuan akan mimpi yang tidak terduga lewat sebuah bioskop yang sekarat di Phantom of Illumination (Wattanapume Laisuwanchai, 2017), hingga hasrat yang seolah tidak masuk akal dari seorang lelaki dan hobinya yang sangat spesifik dalam Tetsu Kono’s Crazy Routine (Sébastien Simon & Forest Ian Etsler, 2016).

Terdapat kegelisahan yang muncul dalam film-film ini, dari kehilangan-kehilangan yang tidak terduga, tidak dihiraukan, tidak diperbincangkan, di tengah dinamika kehidupan sehari-hari yang mengeraskan individu. Seringkali temuan yang dimunculkan terasa ironis sehingga kehilangan seperti dijadikan pilihan. Kompleksitas siklus terus berlanjut, dan lewat film-film ini penonton dibawa dalam perjalanan yang menampilkan kilasan-kilasan dari realita kehilangan dan temuan.

Seperti yang diungkapkan di dalam salah satu film, “Kau telah mengalami reinkarnasi berulang kali.”

Dikurasi oleh Ukky Satya Nugrahani

Rangkaian FFD

  • FFD 2017 | I Want To Go Home
    I Want To Go Home
  • FFD 2017 | Mojtama-e Laleh | Laleh Complex
    Laleh Complex
  • FFD 2017 | Niranratri | Phantom of Illumination
    Phantom of Illumination
  • FFD 2017 | Tetsu Kono's Crazy Routine
    Tetsu Kono's Crazy Routine

Bertutur Seperti Air

Film selalu terpilah-pilah menjadi kategori-kategori; fiksi, dokumenter, genre, animasi. Semakin lama kategori-kategori ini semakin melebur. Pendekatan dalam pembuatan sebuah film menjadi beragam, dengan perspektif dan cara bertutur yang juga semakin beragam sehingga menembus batasan antar ‘kategori’. Dititik inilah saya rasa filmmaker mulai bertutur dan merekam seperti air.

Bicara mengenai dokumenter tidak lepas dari bicara mengenai subjek dan penuturannya. Namun, peleburan yang terjadi membuat dokumenter memiliki ruang yang semakin luas dan beragam. Fiksi terasa seperti dokumenter, dokumenter terasa seperti fiksi, dokumenter animasi, dokumenter remaja, dokumenter petualangan. Peleburan dan keberagaman film-film bisa dilihat dari 19 film dokumenter yang dihadirkan di festival tahun ini. Enam di antaranya berada di kompetisi utama bersama (tanpa dipisahkan dari) film fiksi lainya. Hal ini menunjukan bahwa saat ini adalah tahun yang tepat untuk memulai program khusus dokumenter di JAFF dan bagaimana kita membaca peleburan yang terjadi di dalamnya.

Seperti air, cara bertutur para pembuat film semakin mengalir, mencari dan menghadirkan sesuatu yang semakin spesifik tentang apa yang ingin mereka bicarakan. Seperti bagaimana Tarling is Darling dan Negeri Dongeng mengajak kita terbawa arus pada dunianya. Lalu, film kemudian menciptakan identitas baru dari subjek yang mungkin sudah berulang kali terekam dalam film, seperti film Bulu Mata, Abdul & Jose, dan The Unseen World. Di sinilah kita melihat sensi dalam bagaimana melihat gender, disabilitas, sinema, identitas, dan bahkan tentang kehidupan, semua keberuntungan dan ketidakberuntungannya.

Seperti air, para pembuat film juga mengalir semakin dalam, masuk kecelah-celah yang mungkin sulit dijangkau dalam bercerita. Seperti film Phantom of Illumination yang mengajak kita untuk masuk kedalam ‘rasa dan memori’ gedung bioskop. Atau, film Oh Brother Octopus dan Manila Scream yang bicara tentang laut dan ekspresi mengajak penonton untuk mengikuti lebih dalam subjek film tersebut dan memberikan perspektif baru darinya.

Namun, seperti juga air yang tidak pernah lepas dari sumbernya, pembuat film juga semakin mengalir mencari esensi ke dalam diri sendiri, ke dalam lingkup yang paling kecil: keluarga. Beberapa film, seperti Mrs. Fang karya Wang Bing, kemudian mencari esensi dari sebuah relasi keluarga. Atau, My Father the Last Communist yang melihat relasi tersebut dengan konteksnya pada diri dan situasi dunia saat ini. Kemudian relasi ini memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan itu sendiri, seperti film Daughters atau Semua Telah Dimaafkan karena Kita Pernah Bahagia.

Sepert air, film berproses dan berkembang. Seperti air, mereka selalu membentuk identitas baru yang terus kita baca keberagamannya dalam bertutur. Namun, saat aliran air itu sudah mengalir dengan mapan dan nyaman, maka di sinilah arus baru dibutuhkan. Untuk membuat riak yang baru, untuk melawan arusnya sendiri, maka munculnya program ini adalah tidak lain dari perayaan atas sinema itu sendiri.

 

Ditulis oleh Kamila Andini

Rangkaian JAFF

  • FFD 2017 | Abdul & Jose
    Abdul & Jose
  • FFD 2017 | Semua Sudah Dimaafkan sebab Kita Pernah Bahagia
    All is Forgiven, because We Have Been Happy
  • FFD 2017 | AWAL: Nasib Manusia | AWAL: Fate of Human
    AWAL: Fate of Human
  • FFD 2017 | Balada Bala Sinema
    Balada Bala Sinema
  • FFD 2017 | Bulu Mata
    Bulu Mata
  • FFD 2017 | Burma Storybook
    Burma Storybook
  • FFD 2017 | Musume | Daughter
    Daughter
  • FFD 2017 | Dream Box
    Dream Box
  • FFD 2017 | Manila Scream
    Manila Scream
  • FFD 2017 | Mrs. Fang
    Mrs. Fang
  • FFD 2017 | My Father, The Last Communist
    My Father, The Last Communist
  • FFD 2017 | Oh Brother Octopus
    Oh Brother Octopus
  • Official Selection | FFD 2017 | The Unseen Words
    The Unseen Words
  • FFD 2017 | Waxing Moon
    Waxing Moon

*Program Asian Doc merupakan program yang digagas bersama antara Festival Film Dokumenter dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

aae1dd5186f57546fcc2e70d435d96e5mmmmmmmmmmmmmmmmmmmm