Review Film: Ghost Ship

Ghos Ship | Koldo Almandoz | 67 min | Spain | 2016

Ghos Ship | Koldo Almandoz | 67 min | Spain | 2016

Kapal pesiar identik dengan gaya hidup mewah dan hiburan para borjuis di berbagai negara. Perjalanan kapal pesiar banyak menghadirkan momentum-momentum fenomenal menjadi titik balik suatu sejarah. Menjadi sebuah refleksi yang menarik ketika melihat kehidupan kapal pesiar dalam konteks yang sesungguhnya tak memiliki benang merah secara langsung. Seperti antara kapal, dongeng-dongeng kapal, kapal karam, cinta, film, hantu, bahkan vampir. Simbol-simbol yang bertumbuk ini terbungkus dalam 9 bagan dengan tajuk  Sipo Phantasma, atau Ghost Ship.

Kapal menjadi objek paling general sekaligus menjadi bungkus paling kasat mata dalam rangkaian cerita Ghost Ship. Selanjutnya break down atas ide-ide tentang kapal tertuang dalam setiap bagan, yang meskipun kontras namun masih bisa mengatasnamakan kapal sebagai ide utama. Beberapa bagan membahas cerita-cerita tentang kapal yang dikonsumsi banyak orang. Hingga pada akhirnya kita dapat mengamini bahwa karya-karya kreatif yang bercerita mengenai kehidupan orang-orang di kapal menjadi karya yang sangat laris manis, sebut saja film Titanic, novel Dracula karangan Bram Stoker, atau film Nosferatu yang mengadaptasi novel Dracula.

As idle, as painted ship, on a painted ocean,” menjadi tajuk atas simbol-simbol yang tertampil di bagan pertama. Penonton diajak membaca kehidupan kapal pesiar melalui simbol-simbol pilihan yang membawa makna-makna representasi kehidupan kapal pesiar yang mungkin terkesan “kotor,” penuh aktivitas hedonisme. Semua itu bebas untuk dielaborasi karena segalanya sangat tersirat, dengan membawa makna yang sangat terbatas apabila menganggapnya tersurat. Kapal dijadikan sebagai salah satu sarana hiburan dan gaya hidup mewah pun sebenarnya memiliki cerita historis. Penceritaan mengenai alih fungsi ini kemudian menjadikan Ghost Ship dapat memberi banyak gambaran dan referensi mengenai kehidupan kapal.

Dikontraskan dengan bagan sebelumnya, darkness, creaking wood, roar of waves menjadi lanjutan untuk bagan 2. Dalam bagan ini, penonton diajak untuk memahami narasi beberapa potong dari novel Dracula. Narasi yang dipilih membawa ke fantasi mengenai ketakutan, kegelapan dan rasa risau tak berkesudahan ketika tinggal di kapal. Ketakutan ini diwakili oleh kisah kapal milik Demeter yang diambil alih oleh Count Dracula.

Something Supposedly Amusing, bagan 3 memberikan kenyataan historis mengenai fungsi kapal sebagai salah satu sarana liburan dan pleasure. Potret-potret aktivitas hedonis kapal pesiar menjadi simbol-simbol yang mendominasi bagan ini. Tentunya menjadi bertolak kembali dengan apa yang dibahas pada bagan sebelumnya. Seakan kemudian harus menyimpulkan bahwa realita kehidupan di kapal yang terlihat menyenangkan itu sebenarnya begitu fana.

Mulai dari bagan 4, kita dibawa ke inti mengenai apa yang sebenarnya disebut ‘Ghost Ship’. Tiga premis yang digunakan adalah mengenai novel Dracula, film Nosferatu dan kejadian menghilangnya kapal Lyubov Orlova. Seramnya kapal dimulai ketika Bram Stoker, sang penulis Dracula mengalami masa-masa sulit sehingga ia mampu menulis kisah dalam Dracula. Melompat berikutnya ke kejadian Lyubov Orlova, sebuah kapal misterius yang dinyatakan hilang bertahun-tahun dan diyakini berisi tikus-tikus kanibal yang menyebarkan penyakit. Lyubov Orlova menjadi sebuah representasi nyata dari apa yang ditampilkan Nosferatu, mengenai keberadaan kapal misterius dengan awak kapal yang satu persatu menghilang akibat ketakutan dengan sosok drakula.

Di luar tujuannya untuk mengajak penonton memahami simbol-simbol dan objektifikasi mengenai keberadaan kapal, penonton diajak bernostalgia mengenai film Nosferatu. Beberapa potongan adegan Nosferatu ditampilkan, film ini yang menjadi titik balik film horor dengan sutradara F.W. Murnau yang pantas untuk dikenang. Tentu sangat berbeda dengan film horor kekinian, Nosferatu justru sarat akan adegan yang mungkin kini dianggap konyol dan jauh dari kata mengerikan. Dramatisasi dan gesture yang berlebihan menjadi hal lumrah sebab Nosferatu adalah film bisu, sehingga hal tersebut dimaksudkan supaya penonton bisa menangkap maksud dan feel adegan tanpa perlu dialog.

Di akhir cerita, Ghost Ship menghadirkan sebuah permasalahan yang menarik untuk ditarik dengan keadaan serba digital saat ini. Akhir bagan mengangkat mengenai problematika Nosferatu dalam hal copyright. Berdasakan ulasan-ulasan dari sumber online, Nosferatu dianggap menjiplak novel Dracula tanpa seizin sang penulis novel. Hal ini menyebabkan Florence, istri dari sang penulis novel meminta penghancuran file-file film Nosferatu. Keadaan ini yang patut menjadi hal yang diperhatikan oleh para filmmaker, terkait pencurian ide dan hak cipta. Di luar filmmaker pun, saat ini tantangan akan keaslian dan praktik plagiarisme menjadi masalah yang krusial di era digital.

Ghost Ship memberikan wacana dan gambaran historis tentang kehidupan kapal, bukan hanya dari sisi alat transportasi semata, namun dalam hal bahwa ia adalah benda vital sejak era dahulu. Penonton diingatkan dan diberitahu kembali mengenai momentum-momentum besar dalam sejarah kapal, novel horor dan film horor yang pada akhirnya dapat menjadi sebuah benang merah dan dijadikan cerminan dan refleksi atas hidup di era ini. [Valentina Nita]

Koldo Almandoz | 67 min | Spanyol | 2016

10 Desember 2016 | Societet Militaire | 10:00

Recent Posts
b3f22bafe3e4d7fc97b538b5aeebf16bFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF