Wawancara dengan Eva Tang, Sutradara The Songs We Sang

Eva Tang

The Songs We Sang mengisahkan bahwa ada suatu masa – pada catatan sejarah Singapura yang terlupakan – di mana musik adalah revolusi. Adanya gejolak sejarah terutama dalam perjalanan pergantian bahasa yang digunakan di Singapura menyebabkan perubahan hidup yang begitu besar bagi generasi di masa itu. Tim publisis Festival Film Dokumenter 15 berkesempatan untuk mewawancarai Eva Tang (E) selaku sutradara dari The Songs We Sang. Wawancara dengan sutradara asal Singapura ini berkelindan antara film yang ia buat, isu-isu politik-ekonomi-sosial di Singapura, seputar film dokumenter di Asia Tenggara, hingga bagaimana The Songs We Sang mampu menjadi batu lompatan sekaligus retrospeksi atas sejarah kebudayaan di Singapura. Mari simak

Anda telah cukup lama terjun ke industri perfilman. Apa yang membuat Anda yakin untuk berkarya di bidang ini dan bagaimana negara Anda bersikap mengenai industri ini?

E: Di Singapura, industri film bisa dibilang masih bayi. Sebelumnya banyak gejolak yang terjadi dalam kehidupan sosial di Singapura mulai dari sejarah negaranya, bahasa, dan jarak antar generasi. Maka dari itu kebanyakan film dokumenter dari Singapura dalam rangka menunjukkan siapa diri kita, mengenai identitas kita sebagai negara. Saya sendiri suka mengeksplor di ranah-ranah itu, seperti misalnya mengenai politik di Singapura yang sangat berpengaruh dalam menentukkan siapa kita.

The Songs We Sang sebagai dokumenter independen telah memecahkan box office ketika dirilis, menurut Anda, hal apa saja yang membuat ini bisa mampu terjadi? Adakah kedekatan personal antar mayoritas penonton Anda dengan film yang Anda buat?

E: The Songs We Sang bisa menjadi begitu sukses di Singapura berkat bahasan tema utama yang diangkat. Apa yang dibahas di The Songs We Sang belum pernah dibahas oleh filmmaker di Singapura sebelumnya. Sejarah mengenai perubahan bahasa yang digunakan Singapura menjadi titik balik sejarah yang penting dan berharga bagi Singapura. Perubahan bahasa nasional Singapura menjadi bahasa Inggris berubah begitu cepat. Akibat dari perubahan ini, orang-orang yang lahir di tahun 1970 hingga 1980-an merasakan adanya gap dengan generasi selanjutnya. Penggunaan bahasa Inggris awalnya memang sedikit memaksa, karena kalau tidak berbahasa Inggris maka tidak bisa sekolah, karena di sekolah menggunakan Bahasa Inggris. The Songs We Sang, secara khusus membahas mengenai gap generasi ini. Persepsi audiens mengenai film ini bisa saja berbeda, misalnya dari penonton yang berasal dari sekolah berbasis etnis Cina dibanding penonton yang berasal dari sekolah universal (English School). Banyak anak muda Singapura yang menyaksikan film ini merasa heran ketika menemukan ada orang Singapura yang berbahasa Cina dengan fasih. Hal ini memperlihatkan bahwa gap antara generasi lama dan generasi saat ini sangatlah lebar.

Film ini ditayangkan di bioskop selama enam minggu, selain itu dari pihak pemerintah juga sangat mendukung, terbukti perdana menteri Singapura turut membeli tiket dan menonton film The Songs We Sang. Film ini menjadi film dokumenter asal Singapura yang pertama kali ditayangkan di bioskop. Sebelumnya terdapat suatu stigma di kalangan penonton di Singapura bahwa dokumenter identik dengan hal-hal yang membosankan, namun dengan kehadiran The Songs We Sang, ketakutan-ketakutan akan film dokumenter yang membosankan kemudian sirna. Jadi memang, kesuksesan ini tentunya karena konten yang diusung, dan orang-orang ingin membahasnya. Para penonton merasa sangat tersentuh setelah menonton film ini, banyak dari mereka hingga menangis, mereka merasakan mengenai diri mereka yang sebenarnya di dalam film. Bahkan ada penonton yang menonton film ini di bioskop hingga delapan kali. Saya rasa memang film ini mampu menyentuh perasaan dengan begitu mendalam.

Eva Tang saat Q & A selepas screening The Songs We Sang di IFI-LIP Yogyakarta

Apa yang memutuskan Anda untuk mengangkat Xinyao (Singaporean Songs) untuk menjadi garis besar dari film ini? Adakah cerita personal?

E: Cerita yang diangkat sebenarnya sederhana dan menceritakan tentang orang muda, masih berusia di bawah 20 tahun yang sangat hobi membuat lagu. Ketika ia mulai memutuskan untuk membuat karya musik, dia tidak memikirkan karyanya akan dijadikan komersil. Karya yang dia buat semata-mata untuk menghibur orang-orang di sekitarnya sekaligus dapat mewujudkan rasa pertemanan yang muncul dari anak muda tersebut. Karya yang ia buat begitu murni, innocent, dan simpel. Kemudian musik-musik yang disebut Xinyao ini menjadi populer sekaligus menunjukkan karya anak muda masa itu. Cerita historis mengenai musik ini menjadi sebuah cerita berharga, maka saya sangat ingin mengangkatnya menjadi sebuah film dokumenter. Film ini menunjukkan bahwa Singapura mempunyai budaya, meskipun budaya kini adalah aspek yang sangat ditinggalkan dalam gaya hidup orang-orang Singapura. Mereka yang lahir di tahun 80an dituntut memiliki sikap pragmatik dan praktis serta dituntut dalam pengembangan ekonomi. Berkat tuntutan ini Singapura selalu dianggap sebagai negara yang tidak memiliki budaya, maka dari itu film ini ingin berusaha menunjukkan bahwa Singapura memiliki cerita pergerakan mengenai musik dan budaya.

Tahun ini, di Festival Film Dokumenter, kami mengangkat tema ‘Displacement’ dengan maksud ingin memunculkan ke permukaan isu-isu tentang perpindahan, baik dalam waktu/ruang/gagasan. Dari sebab diskriminasi, pemerintahan represif, dan stigma yang dicap buruk akan sesuatu hal seperti: disabilitas, orientasi seksual, maupun keyakinan moralitas, untuk di Singapura sendiri, dinamika seperti apa yang terjadi?

E: Menurut saya segala hal yang ada di Singapura bisa dikatakan sebagai ‘Displacement’. Mengapa demikian karena sampai saat ini identitas mengenai Singapura masih menjadi perdebatan. Sebanyak 70% populasinya berasal dari etnis Cina, tetapi tidak lagi berbicara bahasa Cina. Sedangkan suku Melayu yang merupakan etnis asli di Singapura justru tidak mendominasi populasi, etnis India menjadi penduduk mayoritas. Dari kesekian etnis yang tinggal di Singapura, tidak ada yang menjadi pusat. Ketika etnis Cina dikatakan menjadi pusat dari penduduk, itu tidak berlaku pula karena etnis Cina di sini tidak menggunakan bahasa Cina. Maka dari itu identitas asli dari Singapura adalah tanda tanya besar. Selain itu dalam tuntutan bahasa juga berbeda. Orang-orang Singapura menggunakan bahasa campuran Cina-Inggris (Singlish), namun pemerintah menganjurkan untuk menggunakan bahasa Inggris yang benar secara internasional. Perbedaan ini saya rasa bisa disebut sebagai sebuah displacement.

Selain itu, sebagai negara yang kecil maka tanah menjadi sesuatu yang sangat berharga. Di Singapura tidak ada sesuatu yang usang dipertahankan. Gedung-gedung yang terlihat lama sesegera mungkin diganti jadi baru. Maka dari itu menyebabkan tidak adanya sejarah dan kenangan bagi orang-orang Singapura. Ketika sudah dewasa, orang Singapura akan kesulitan mencari lokasi SD nya zaman dahulu, itu semua karena bangunan terus menerus diperbarui. Orang Singapura juga terbiasa dengan hidup berpindah-pindah, sehingga akan sulit untuk menemukan di mana rumah orang tua dahulu, di mana rumah kakek dan nenek dahulu. Seperti itu dikatakan sebagai displacement kan?

Kembali lagi ke film, bagaimana masyarakat usia paruh-baya di Singapura – yang saya lihat memiliki kedekatan dengan Xinyao – merespon film Anda The Songs We Sang?

E: Bagi mereka yang tumbuh dewasa sebelum kemerdekaan Singapura, mereka begitu paham mengenai apa yang dibahas di The Songs We Sang. Mereka begitu berterima kasih dan merasakan emosi yang begitu tersentuh ketika menonton film. Sedangkan bagi mereka generasi yang lebih baru, mereka terkejut dengan adanya kisah-kisah tersebut. Hal yang membuat saya tersentuh adalah ketika melihat ibu dan anak perempuannya menonton film ini bersama, mereka berasal dari generasi yang berbeda kemudian sang anak menjadi mengerti bahwa pada zaman dulu begitu banyak perjuangan yang harus dilakukan.

Apa yang Anda alami selama beberapa hari ini sebagai tamu Festival Film Dokumenter, boleh diceritakan? Tentang Forum Dokumenter tertua di Asia Tenggara, tema yang diangkat, hingga mungkin film-filmnya?

E: Menurut saya film dokumenter di Indonesia dipenuhi dengan passion. Saat saya mengobrol dengan filmmaker dokumenter di Indonesia, saya banyak mendapat cerita bahwa membuat film dokumenter di sini sangat penuh perjuangan. Kesulitan juga dirasakan untuk membawa film dokumenter ke bioskop. Jadi adanya Festival Film Dokumenter ini menjadi sebuah usaha konkrit yang penuh perjuangan. Saya lihat banyak anak muda yang terlibat, itu berarti komunitas pelajar di Jogja mau bergerak begitu impresif mendukung film dokumenter. Saya harap pihak pemerintah dan media massa dapat memberi dukungan terhadap festival ini, media dapat menjadi penentu dalam keberhasilan publikasi suatu karya. [Valentina Nita / Ellyta Rahmayandi]

Recent Posts
7ef25cfbcc006f36d45e4976b13b5f15<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<