Merasakan Film Etnografi Indrawi dalam Diskusi

Diskusi ‘Merasakan Film Etnografi Indrawi’ bersama Aryo Danusiri, Eric Sasono, dan Franciscus Apriwan

Diskusi pertama dari rangkaian acara Festival Film Dokumenter  15 Displacement dengan tema Merasakan Film Etnografi Indrawi telah usai pada hari Kamis (8/12) lalu. Bertempat di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, diskusi ini melibatkan dua pembicara, yaitu Aryo Danusiri (Sutradara film etnografi indrawi On Broadway #5) dan Eric Sasono (Kritikus Film) dengan Fransiscus Apriwan (Koordinator Program FFD 15) sebagai moderator, serta peserta yang antusias dalam mengikuti diskusi.

Dimulai dengan pemutaran film On Broadway #5 yang dijadikan referensi dalam diskusi ini. Film dengan durasi 61 menit ini menggambarkan mengenai ruang publik, hubungan antar agama, dan memori dalam masyarakat Amerika. Disajikan dalam 6 sequence, film ini berusaha mengangkat wacana yang dinarasikan dengan perspektif yang sedikit berbeda. Etnografi indrawi yang diusung dalam film ini memberikan kesempatan pada penonton untuk mengalami wacana yang diangkat ketika menonton film.

Proses diskusi berjalan dengan lancar dan peserta dengan antusias menanyakan pertanyaan seputar etnografi indrawi dari teknik pembuatan film, bagaimana film-film etnografi indrawi berhasil dalam menyampaikan pesan yang pada penonton, hingga posisi film etnografi indrawi di dunia perfilman. Diskusi juga tidak hanya mengenai film dokumenter, namun bagaimana etnografi indrawi juga digunakan dalam film-film fiksi. Terdapat hal-hal baru yang menarik yang dapat di ambil dari diskusi ini.

Keunikan film etnografi indrawi dalam memilih perspektif untuk melihat wacana yang ingin diangkatnya mengundang berbagai pertanyaan unik dari peserta diskusi. Pertanyaan yang tergolong menarik berasal dari salah satu peserta diskusi yang menanyakan mengenai apakah film etnografi indrawi sama dengan film observasional dan apakah film dokumenter etnografi indrawi hanya mengandalkan visual untuk menyampaikan wacananya.

“Etnografi indrawi tentu berbeda dengan obervasional terlebih dengan antropologi indrawi. Pada dasarnya, etnografi indrawi merupakan teknik untuk mengalami etnografi menggunakan indra yang dimiliki oleh manusia. Jika film lain hanya menyajikan dalam menonton, maka etnografi indrawi mengajak penonton untuk mengalami etnografi itu sendiri,” jawab Aryo untuk pertanyaan mengenai film etnografi indrawi.

“Visual dalam film dokumenter, atau dalam film apapun hanya merupakan sajian penggambaran akan suatu wacana. Namun, suara merupakan bukti otentik dalam menunjukkan sebuah wacana. Dalam etnografi indrawi, visual digunakan untuk mengajak penonton dalam mengalami film tersebut, namun suara tetap menjadi bukti bahwa wacana yang diangkat dapat menimbulkan bahwa ini adalah film dokumenter dengan persoalan yang nyata, bukan hanya fiksi belaka,” sambung Eric mengakhiri diskusi ini. [Ellyta Rahmayandi]

Recent Posts
721c6b3586a5e4e5be264714d6a620fb^