Masterclass ‘Docs In Progress’ dan Dinamika dalam Proses Pembuatan Project Setiap Pesertanya

Peserta, Mentor, dan Panitia Masterclass di Tembi Rumah Budaya

Program edukasi besutan Festival Film Dokumenter selain School Docs, yakni Master Class, di tahun 2016 ini telah selesai dilaksanakan pada 6 hingga 9 Desember lalu. 10 filmmaker dari berbagai daerah turut serta sebagai peserta yang siap dengan project masing-masing. Mengundang beberapa mentor profesional seperti John Appel, Malinda Wink, Ranjan Palit serta sutradara Aryo Danusiri membuat tema “Docs In Progress” semakin kuat dengan berbagi pengetahuan, sudut pandang, dan pengalaman yang telah dilalui oleh mereka. Dengan mengambil tema tersebut, Masterclass tahun ini berharap dapat membantu para filmmaker dalam memecahkan permasalahan maupun kendala yang ditemui dalam projectnya. Selain itu, dinamika dalam Masterclass pun berjalan dengan baik dan kondusif dengan melihat animo para peserta yang sangat interaktif.

Masterclass Hari Pertama

Gelaran hari pertama, Selasa (6/12), dibuka dengan sesi diskusi serta screening beberapa film dokumenter bersama John Appel. Pada sesi itu, John memberikan cukup banyak masukan yang membantu filmmaker, ia menyampaikan bahwa suatu dokumenter akan menjadi bagus apabila para filmmaker dapat memahami betul alur cerita yang akan digarap, di mana suatu film tidak semata-mata tentang siapa dan bagaimana kisah yang ingin diangkat, adakah permasalahan/isu/konfik di dalamnya. Karena tidak jarang beberapa film dokumenter sengaja dibuat dalam rangka penemuan, solusi, ataupun jawaban dari sebuah permasalahan yang ada. Selain itu, John juga menyampaikan bahwa film dokumenter harus bisa mewartakan sebuah pesan tidak hanya melalui visual, “tidak hanya melalui apa yang penonton lihat, namun poin yang ingin disampaikan dalam film juga harus tergambarkan dalam latar suara yang dapat mendukung atmosfer yang terdapat dalam setiap segmen pada film,” ungkapnya.

Presentasi Project dari Peserta Masterclass

Hari kedua Masterclass, Rabu (7/12), merupakan sesi di mana para peserta berkesempatan untuk mempresentasikan tiap-tiap projectnya untuk kemudian diberikan tanggapan, baik oleh peserta maupun oleh para tamu sutradara. Aryo Danusiri, sutradara ternama di Indonesia, juga turut memaparkan beberapa materi terkait tema Docs In Progress pada sesi ini kemudian disusul dengan screening serta diskusi bersama Ranjan Palit mengenai film-film garapannya. Seperti pada hari-hari sebelumnya, animo peserta cukup terasa, lengkap dengan timbal balik yang diberikan. Gelaran hari keempat atau hari terakhir Masterclass merupakan puncak di mana para peserta telah memutar project masing-masing di hadapan para mentor, juga Greg Arya (Direktur Festival Film Dokumenter) dan Aryo Danusiri. Pada sesi tersebut peserta sudah harus mempersiapkan secara matang project mereka dengan menjelaskan secara detail mengenai tujuan, maksud, dan harapan ke depan mengenai project selanjutnya. Para tim juri cukup antusias dengan tayangan project para peserta, berikut dengan komentar serta masukan yang membangun.

Sesi One-On-One Masterclass bersama John Appel

“Masterclass tahun ini cukup menarik, di mana ada pendapat yang berbeda dari orang-orang yang berbeda terhadap trailer dokumenter yg berbeda-berbeda pula. Ketika trailer film saya ditayangkan beberapa sangat menikmatinya dan bertepuk tangan saat trailer selesai diputar, namun ada juga yang tidak bertepuk tangan. Tapi itulah, bahwa pribadi yang berbeda-beda memiliki cara menanggapi yg berbeda pula terhadap sesuatu,” ungkap Ranjan Palit. Ranjan juga menyinggung mengenai kepercayaan diri para peserta terhadap project mereka, ia menemukan ada beberapa yang berkarakter kuat dan ada beberapa yang berkarater lemah dalam proses pematangan project. Hal tersebut ia amati pada saat sesi one-on-one yg merupakan sesi penutup pada hari ketiga Masterclass.

Sesi One-On-One Masterclass bersama Malinda Wink

“Ada film yang sebenarnya memiliki konsep yang baik namun sayang tidak dibungkus dengan apik ke dalam film, artinya bahwa filmnya tidak memunculkan suatu emosi tertentu dan cenderung stagnan, lalu setelah itu apa yang ingin disampaikan pada film ini. Namun di sisi lain, tim yang berkarakter kuat sudah cukup mapan dalam pematangan project, maksud, dan nilai-nilai yang ingin disampaikan sudah jelas” sambung Ranjan. Terhadap program Masterclass di tahun mendatang, ia berharap tim Masterclass mengundang sutradara atau narasumber yang dapat menyampaikan tentang bagaimana dengan pitching project, filmmaker bisa mendapatkan pundi-pundi untuk menggarap karyanya. Menurutnya hal itu perlu, karena pada film dokumenter di samping bergelut dengan kamera dan konsep, mendapatkan modal materil itu penting.

Sesi One-On-One Masterclass bersama Ranjan Palit

Dinamika Masterclass yang kondusif, interaktif, dan lancar dibenarkan oleh Ichsan sebagai salah satu peserta Masterclass tahun ini. Menurutnya selama 4 hari ia menjalani beberapa sesi diskusi dan pitching, ia merasa terbantu dengan memperoleh banyak masukan positif yang akan menunjang pembuatan project selanjutnya. Suasana Tembi Rumah Budaya yang tenang juga mendukung lancarnya Masterclass sehingga menimbulkan kesan yang berbeda.

“Harapannya semoga Masterclass tahun depan dan tahun-tahun mendatang tetap bisa memberikan tema-tema yang menarik, mengedukasi para filmmaker dan juga tetap bisa memberikan pengalaman yang berbeda dalam hal membicarakan film dokumenter,” tutupnya. [Justicia Handykaputri]

Recent Posts
a080ad8baa949f0e5758c0a17435b03711111111111111111111111111111