SEADoc: Merefleksi Singapura melalui Dokumenter

1987: Untracing The Conspiracy (Jason Soo, 2015)

1987: Untracing The Conspiracy (Jason Soo, 2015)

Berbicara mengenai Asia Tenggara tidak akan lepas dari sejarahnya sebagai negara-negara jajahan. Dikenal sebagai belahan dunia yang baru ditemukan, Asia Tenggara dianggap sebagai tanah baru untuk dieksplorasi. Singapura sebagai adalah salah satunya. Di 51 tahun kemerdekaannya, kini Singapura menjadi acuan modernitas bagi negara-negara tetangganya dan mengalami penjajahan dalam bentuk yang lain.

Program SEADoc kali ini bekerja sama dengan Asian Film Archive (AFA). Berusaha untuk membaca perjalanan Singapura secara runut, mengikuti transformasi negara kecil di semenanjung Malaya – yang dikenal sebagai Republik termaju di Asia Tenggara. Kemajuan Singapura tidak lepas dari serangkaian konflik etnis, sosial, dan sektarian. SEADoc merangkumnya dalam empat film yang mewakili transformasi Singapura dan masalah yang mengiringinya sejak pemerintahan Lee Kwan Yew hingga pembacaan ke masa mendatang.

Songs We Sang (Eva Tang, 2016) menggambarkan bagaimana kebudayaan daerah dikesampingkan. Budaya Tionghoa yang dahulu dianggap sebagai kebudayaan daerah mulai digantikan termakan tren dan Bahasa Inggris menjadi tolak ukur kemajuan seseorang. Musik folk Tiongkok menjadi nafas yang membawa penonton untuk masuk, mewakili nostalgia generasi lama yang masih menikmati kejayaan musik-musik Tiongkok.

Komunisme memiliki kisah tersendiri di Singapura. Di masa pergantian jabatan dari Lee Kwan Yew ke putranya pada tahun 1987. 1987: Untracing the Conspiracy (Jason Soo, 2015) merekam pengakuan beberapa orang yang dituduh tergabung dalam Kelompok Marxist yang kemudian mengalami siksaan fisik dan teror sesudahnya.

Kehidupan urban Singapura kini menjadi acuan modernitas negara-negara tetangganya, pun termasuk Indonesia. Pembangunan yang berjalan cepat dan tingginya gedung-gedung di Singapura mencerminkan kemegahan. 03-FLATS (Lei Yuan Bin, 2015), menangkap geliat kehidupan urban di Singapura dari pembangunan flat atau apartemen sebagai penanda hidup modern yang dicanangkan pemerintah Singapura sejak tahun 60-an. Di balik sekat-sekat kamar apartemen, film ini merekam relasi subjek-subjeknya, ketiganya adalah wanita yang hidup sebagai manusia modern.

Mencoba melihat masa depan Singapura di tahun 2066, Snakeskin (Daniel Hui, 2014) melakukan pembacaan atas kompleksitas masyarakat Singapura dengan etnisnya, hal-hal tabu yang hidup di masyarakat, dan kemanusiaan yang semakin kabur di tengah modernitas.

Rangkaian pemutaran film SEADoc sebagai bagian dari Program Parsial dalam FFD ke- 15 akan digelar pada tanggal 7-10 Desember 2016. [Ellyta Rahmayandi]

Untuk jadwal lebih lanjut dapat diakses di sini

Recent Posts
b8c0e051e62a4ca806de9dfdfc00da1eSSSSSSSSSSS